KARYA SASTRA YANG MENYIBAK SOSIAL MASYARAKAT INDONESIA

Rabu, 26 Desember 2012

R e s a h


selalu ada gundah
merebah,  tak mampu  aku bawa arah tubuh
sementara sang detik menusuku dalam- dalam
aku terjebak dalam kelana
menukil sketsa yang aku mau
pada belantara aku temukan kau

tak heran bila sedih
melepaskan  tiap urat nadiku...
jalan jalan yang pernah kita lalui
berpagar  beluntas
bersandar pada bilah bambu
kini memekik, tak mampu kudengar

tinggal satu lagi,
cerita panjang  membelit tiap kata hati
akan kulepas, berseloroh dengan batang jambu
di halaman rumah, kala kau dan aku satu.....

 Semarang, 27-12-12

Kamis, 13 Desember 2012

Untuk si Dia

 

aku teriakan..
dari tulang rusuku...dari kering tenggorokanku.
tentang kamu...tentang rambut sutramu.
kala aku menelusuri tiap detik...
milkmu...milik hari dan milik esok.
kau bangkit mentipkan salam rindu,lewat tahun baru
dan aku simpan dalam keranjang cinta...
berisi rembulan, matahari

di tahun baru kita menelusuri jengkal halaman rumah kita
meski berdinding bambu, beralas tanah dan atap
rumbai ilalang
namun kita milik sejuk embun pagi
kita berdua menjadi pengantin baru
saat kau terpejam...haripun menggeliatkan ceria
saat rambut sutamu tersibak harum mewangi
akupun lepas dari iblis durjana
kita milik hari hari indah

kau untai seribu puisi brmanik cinta
aku menggelepar dalam rindu dan cumbu

MET TAHUN BARU 2013 SAYANGKU......


Malioboro

di Malioboro langit membuka
satu halaman penuh buku catatanku
kau saksikan guratan langit
kau juga menyodorkan mawar jingga

sepanjang Malioboro menjadi miliku
tiap sudut kota ini mengerling mata
kita dalam seribu sayap..
menanti perguliran musim ...tak ada prahara
aku gelorakan getar yang menembus ombak pantai selatan
bersama camar merentang sayap
agar aku dapat berkait pada tulang rusukmu...

lampu taman di kota ini...
tak mampu lagi menghardiku..
aku menjadi manja ABG bergayut di lenganmu...

meski kota ini tahu...
tentang deru nafas manusia manusia kecil
tapi cinta milik setiap bilah hati
termasuk aku dan si dia....

JOGJAKARTA , MEI 2012

Rabu, 12 Desember 2012

Bangunlah Negeriku

Merdeka !!! “,  pekik itu sayup menyelinap di padang berlantai duri

lenyap  dipinang hiasan jaman dengan pemanis warna warni,

setiap ranum bunga, dahan dan  daun melekang kering diterkam

angin prahara dari jaman yang runtuh.

hanya menyisakan dada dada kosong  anak jaman berias wajah mengerikan

menerpa tanah hunian  sang mutumanikam, 

laksana  gempita tsunami dari Tambora dan Krakatau

lantang menghardik semilir sejuk angin sorga  membawa sari hidup

damai mengusung detik esok hari penuh ceria.


tiada lagi  sosok penyejuk jaman  menjinjing epos pahlawan

tiada lagi tangan tangan sejuk terbentang bergayut di bahu yang kokoh,

layar perahu telah terkembang menampilkan mozaik tangis dan pilu

saat daun pandan di halaman archipelago negeriku  layu berkoyak kepalsuan

dijerat syahwat iblis iblis jaman di siang hari bolong.


kita harus mengadu pada siapa ?

nyanyi rindu  pada bunga bunga bangsa harum wewangi sepanjang

tanah lapang tempat berkejaran anak anak kita mengejar pipit dan

kenari. Dalam seloroh di tanah nyaman tak berujung gerigi tajam.

ak ada lagi mesiu tempat mengungkap kata hati yang sumbang

muram durja kita, disambut gempita sorak iblis,

bersemayam  di benak anak anak kita di tepi puing jaman.E


masihkah kita hirau ?

jangan hiraukan sihir tajam dari iblis bermata juling



(Semarang, 10 Desember 2012)



1.      Pesan  Emaku


mengapa kita tak pandai ?

menyimpan petuah dan cerita emak,

tentang   wajah monster  jaman  menghadang

hingga berulang kali  emaku  mengerutkan kening

sorot matanya jauh menembus dinding jantungku


emak !, memang sulit untuk memebenahi

anakmu yang meregang dicumbu “reformasi” yang dikais

dari puing negeri yang tercabik tangis pilu

tak ada lagi rajutan kain biru darimu, untuk medinginkan

gemertak tulang iga


namun emak  tak akan lagi harus basah

keriput dan legam pipimu,  tak akan lagi haru

yang meregangkan semua urat nadimu,

tak kan ada lagi riuh gempita rumput kering

meraih basah gerimis diusung angin pasat


emak, pelankan deru nafasmu!,

telah pulih dan membiru  atmosfer negeri tempat mandi bidadari

hingga emak masih mampu merapikan semi padi dan sayur.


(Semarang, 12  Desember 2012)


2.      Anak Ubi dan Sang Iblis

dengarkan kawan !

kita anak ubi, dalam muram durja

kita masih mampu  menghitung arah angin

agar berselingkuh dengan gersang sawah ladang



anak ubi  tak pernah terpingit dalam keluh

pengap debu debu jalan yang kini ganas,

lantaran kini  saudaraku telah lantang berbicara

dengan bahasa debu dan deru wajah yang menghitam

angin prahara manakah yang meminangnya ?,


anak ubi !, janganlah lenyap dalam ikatan kata  mesra !

janganlah kau sembunyikan dirimu di kolong langit

saat semua iblis bangkit dari galian kuburnya

saat mereka mencabik semua warna pelangi

dada kita haruslah membara untuk menghempas sihir sihir

dari lipatan jubah jubah hitam sang iblis


dalam relung waktu ke depan terbentang lurus

menyibak jendela langit, mendung kita terjang

prahara kita kemas dalam keranjang kasih, tangan mengepal

kita sambut dengan seloroh anak ubu yang manis ceria

sang iblis tertawan di sudut negeri ini

hingga damai kita padu dengan pagi ceria.


(Semarang, 12  Desember 2012)


3.       Cakrawala di Sisi Timur


cakrawala senja kini  tak sedikitpu bergeming

kita tak akan mampu membalik pusaran bumi

kita diam dalam sudut kamar, menggapai benang putih

namun daun daun pandan di halaman rumah kita

tetap kita semai dengan percikan embun dini hari


sisi timur sang cakawala kita gambar

dengan raut wajah cemerlang

biarkan tumbuh pohon jati untuk pilar rumah

ana cucu kita....


kita tak segontai langkah anjing anjing liar

yang ganas demi sekerat daging mengoyak hari

kita tak seganas harimau bertatap mata nanar

dengan cengkeraman kuku yang tiada daya

sehingga kita tejerambab dalam kepongahan

dan syak wasangka..


tapi kita segagah burung elang merentang sayap

untuk mengintip hari hari yang diusung sang waktu

di cakrawala timur kita hinggap


(Semarang, 12  Desember 2012)


4.      Benang Putih


di tiap nafas, adalah ikatan benang putih

di tiap gemeretak geraham kita, Dia  akan menyejuk

saat sang waktu menebas, kita dalam sorot MataNYA

dalam benang putih kita terbang menjinjing harap

kita sepadan dalam menata negeri pongah  ini

di tepi langit, kita adukan semua keluh dan kesah


(Semarang, 12  Desember 2012)

Rabu, 05 Desember 2012

Aku dan Jaman

aku berdiri di tengah badai..

dalam reruntuhan jaman...

aku tersesat di tepi hari, yang meludahi dan menyudahiku...
aku genapi semua yang menepisku..
agar terkapar dalam bijak dan sendu hidup...miliku sendiri
hingga badai...menjadi diriku sendiri

masih tersisia detik yang binal dan liar,
masih ada batas senja yang geram dan bertaring tajam
meski aku hanya tulang daging...
namun aku bangkit dari  tanah yang menghimpitku..
lantas aku petik dengan damai di sudut jantungku...
karena semua adalah fatamorgana dan dongeng anak
sebelum tidur....semu tapi jalang
aku kembali menggeliat...
untuk hari hariku sendiri, yang bersikeras
bagai iblis dan setan dari telaga langit
aku ceria...........

 

Dingin

tak bersuara, dingin membisu
lalang kunang, bersayap ...cahaya hanya secercah
pohon terbujur kaku menanti angin dalam seloroh
tepi langit hitam melipat wajah
atmaosfer berkaca pada manusia manusia srigala...

menyayat kanvas biru dalam sketsa ego berhati jelaga
kita terkubur dalam liang manusia durjana
damai...hijau...sejuk....
di beranda rumah kita

hujan.....


serpihan asa...
tetap menelikung
tulang igaku...

angin..
adakah kau,
menyodorkan nafas
tak jalang..menikam bisu

dingin..
masih melipat
bagai lolong srigala...
kemana langkah
kukayuh meminang hari..

pekat.
seandainya kau bersahabat..
merentang rembulan.
seribu belati
tajam mengulitiku..

sendiri...
tanpa seloroh
secawan kasih
aku mengharap.....

semarang, 3 desember 12