KARYA SASTRA YANG MENYIBAK SOSIAL MASYARAKAT INDONESIA

Selasa, 28 September 2010

Pertemuan Di Bibir Neraka

Bulan purnama masih mengulurkan tangannya guna memberi kehangatan kepada alam semesta yang dilingkunginya, sementara itu di sebuah padang gersang terdengar dengus nafas beberapa manusia yang duduk saling melingkar. Wajah mereka semua tiada satu bilahpun menyisakan canda tawa. Pertanda sesuatu telah berkecamuk dalam ssnubari masing-masing. Dalam keremangan tersebut mereka mencoba untuk menggapai wewangian dalam busuknya puing kehidupan, yang telah mencekam mereka.Kentara dari nanarnya pandang mata mereka, yang berhasrat menembus “tabir keremangan malam”.

Sesekali suara lolong anjing melecut bagai pecut berapi yang membelah udara malam menjadi keping-keping misterius bersamaan dengan mantra-mantra kegelapan,yang lepas begitu saja dari mulut yang bersambung dengan jiwa yang kering. Tapi mantra mantra itu berlalu begitu saja, tiada satu sapaanpun lemah gemulai bidadari malam ataupun kunang-kunang yang menelisik ke tengah hati mereka. Lantas angin dingin fajarpun bersorak bagai batu yang runtuh, menggugah alam sadar mereka. Malam yang dinginpun kini melintang dan membujur di depan mereka tanpa bisa mengantarkan mereka dalam “menyambut pertemuan mereka dengan di luar batas bumi yang berputar”.

“Mana lagi arah yang akan kutempuh, untuk membawa segumpal anganku, hai istriku”.Samekto mulai menelanjangi dirinya sendiri dengan tatapan yang redup,di depan istrinya.

Istrinyapun masih menggenggam kemisteriusannya terhadap suaminya yang tiada lagi mampu menyatukan nalarnya dengan “episode kehidupan mereka” yang melekang. Satu dua rentetan peluru keluh kesah suaminya, dibiarkan begitu saja, meski peluru peluru itu kadang mampu menghujam hatinya, hingga menebari luka goresan yang dalam. Namun Sawitri segera membungkusnya dengan “air dingin dan sejuk di pagi hari” . Sawitripu tahu bila suaminya memang sedang dihantui iblis pengikat sukma, sehingga selalu saja memburu kekayaan dengan jalan melintas alam gurun hitam pekat, yang tak berujung, Semakin suaminya mengayuh perahu angan, semakin jauh batas gurun kepekatan itu..

“Istirahatlah dulu, Mas !. Kan masih ada bulan purnama lagi. Malam yang mampu mengantar Kangmas meraih gunung emas itu!” sesekali Sawitri mencoba meneduhkan angan suaminya yang terlanjur menebas deru dan debu yang tiada akhir.

“Kau tahu apa, Sawitri !. Kalau aku berhasil menemui penjaga empat penjuru bumi, maka semua keluh kesahmu, akan segera terbungkam. Berganti dengan dandanan kamu yang ayu seperti istri-istri Panjengan Dalem, barulah engkau Sawtri istri Juragan Samekto”.

“Selama aku jadi istrimu, tiada pernah aku lontarkan sebuah keluh kesah. Wajahku ini selalu menggambar kehidupan yang nyata, suamiku !, Aku tidak ingin bersolek dengan harta yang engkau dapatkan dengan menembus kegelapan malam. Aku lebih suka menjadi Sawitri meski Cuma jualan makanan di pasar, dengan penghasilan yang tidak seberapa, tapi itulah hidup,Mas !”

“Sawitri,jangan kamu ajari aku tentang hidup, tahu apa kamu !. Tidak ada salahnya hidup bertabur kemuliaan, entah dari mana asalnya, yang jelas aku tidak mencuri dari siapapun, Toh sudah menjadi suratan takdir, bila sesama yang hidup saling menolong satu sama lainnya. Sudahlah Sawitri !, engkau jangan memprotes, apapun yang akan aku dapatkan semuanya untuk kamu dan anak-anak kita !”.

Rumah tua berasitektur Jawa dengan dinding terbuat dari kayu jati kini lengang, hanya suara cengjkerik yang terdengar dari kebun sayur sekeliling rumah tua itu. .Nyala lampu minyakpun kini mulai redup,Rupanya malam benar benar memingit kedua insan yang berdiri saling bersebrangan, Sawitri hanya diam dengan mengelus perasaannya itu, apapun Samekto laki laki sekeras batu karang dari Laut Kidul, adalah suaminya yang terikat dengan benang sakral, beruntai ratna mutumanikam yang sempat membahagiakan hidupnya dengan Samekto.

Kala Samekto masih memiliki penghidupan sebagai anemer bangunan, kala itu Samekto adalah laki-laki yang hadir dalam kanvas lukisan penuh makna. Kehidupan yang

mensiratkan hasrat yang menyatu antara dua anak adam yang berhak mencintai dan dicintai, hingga dari cintanya membuahkan empat putra mereka. Tapi ternyata Sawitripun baru tahu bahwa sudah menjadi hak Sang Maha Pencipta, untuk membawa mereka dalam liku hidup yang berduri dan berkelok dengan diselingi bibir jurang yang menganga siap untuk melumatkan tubuh dan keempat putranya. Setelah Sawitri bermandikan madu merangkai hidup penuh bahagia, kini merekapun harus hidup disela gerigi jaman yang tajam.

Samektopun menjerit menemui kenyataan hidupnya, lantaran sawah penghidupanya telah mongering di tengah musim kemarau, ibarat padang gersang yang hanya dihuni belalang dan cengkerik saja. Samektopun tidak mau bila apa yang pernah dia dapatkan, akan lepas begitu saja. Lantas diapun berusaha membalikan arah berputarnya bumi demi lembalinya secercah kehidupan yang pernah di hirup bersama Sawitri, sang bunga desa yang tiada satupun pria yang sanggup merobohkan hatinya kala itu.

Roda waktu terus saja menggilas siapa saja yang memiliki asa, demikian juga purnama di bulan ini telah diambang senja. Samekto tiada terdengar suaranya sejak malam kemarin, hanya sekali sekali terdengar lirih mengharap purnama ini menjadi purnama yang berarti bagi dirinya, Ingin sekali Samekto segera mendandani Sawitri mirip dengan dandanan istri sang tumenggung atau istri sang demang di desanya, dengan dandanan wanita terpandang, bukan Sawitri yang menjual panganan di Pasar Besar Kadipaten Surakarta..

Lingkaran Samekto dan semua pengikutnya telah berkumpul dan menjadi bagian dari purnama yang membelah langit hitam. Sepanjang malam Samekto terus saja melantunkan mantra mantra saktinya, menembus tepi bulan purnama hingga keremangan malam di empat penjuru angin, Mantra yang dimuntahkan semakin bertambah keras, namun tetap saja Samekto kesepian dengan dirinya sendiri. Lantaran tiada satupun yang terpanggilkan
menumpahkan belas kasihan, hingga terdengarlah kokok ayam jantan yang menghadirkan cakrawala fajar.

Semua yang melingkar kini didera kemasgulan hati, lantaran tiada satupun asa yang membuahkan hasil. Mereka kini menatap Samekto dengan tatapan yang nanar seakan ingin segera menelan Samekto hidup-hidup. Sebagian lagi berlalu mengikuti arah angin fajar yang telah menggigit tulang, hinggi kini tinggal Samekto yang meratapi nasibnya. Lantaran seribu angannya yang terlanjur singgah dihatinya, kini bagaikan serbuk kayu yang beterbangan tertiup angin kegagalan. Rasa sedih yang mendalam sesekali hadir, kala dia melihat di cermin hatinya dandanan Sawitri ketika hendak menghadap gusti ratu, semerbak kembang melati memenuhi rongga hidungnya. Senyum madu istri tercintanya dibayangkan akan hadir meruntuhkan pilar langut yang kokoh. Namun dengan terbujur kakunya sang bulan purnama kini semua harapan menjadi surut entah hinggap di mana.

Langkah gontai kini menemani anak manusia yang disarati angan tak menentu, tubuhnya menjadi lemas disertai keringat dingin membasahi kulitnya. Dadanya menjadi sesak dan wajahnya pucat layaknya dilapisi kapas. Kini lemas tubuh dan kesedihan disatukan dengan ranjang tua disebelah Sawitri.

“Mas, kamu tidak apa-apa ?”
‘Nggak tahu, tiba tiba saja tubuhku lemas, aku tidak mendapatkan apa-apa malam ini. Lain kali akan aku sempurnakan mantraku,hingga malam purnama nanti, aku akan menjadi Samekto yang terkaya seperti dahulu”
“Kali ini saja badanmu tidak kuat, apalagi purnama berikutnya,sadarlah Kangmas
“Sadar, yang bagaimana Sawitri ?”
“Carilah penghidupan kita dengan tidak bediri di bibir neraka”
“Apa maksudmu ?, siapa yang mengajarimu, Kamu jangan sok pintar di depanku”
“Aku istrimu Mas, yang hampir 20 tahun suka duka mendampingimu. Apapun yang terjadi dengan dirimu, akupun ikut mersakan “
“Lantas apa maksudmu aku berdiri di bibir neraka”
“Caramu mencari penghidupan tidak di jalan yang benar, tidak dikehendaki Tuhan yang Kuasa”.
“Tuhan !, apa Dia mendengarkan keluh kesah kita, Sawitri ?”
5
“Pernahkan Mas dengar aku menyanggahmu, tak pernah kan ?. Hanya kali ini saja aku menyanggahmu, demi kehidupan kita Kangmas !”.
“Ya memang begitu Sawitri,kehidupanku harus sepadan dengan Bekel Sosro Wardoyo, yang tungganganya kini kuda dari negara Belanda atau Ki Demang yang memiliki andong pesanan dari Batavia, yang dipenuhi monel-monel berkilauan.Mereka semua memiliki kerbau dan sapi ratusan, serta sawah yang ratusan hektar. Apa kamu tidak meri istriku ?”.
“Kita masih memiliki beberapa hektar sawah, meski sudah banyak yang terjual. Bisa kita paron dengan petani sekitar kita dan kita bisa mulai dagang kecil-kecilan,yang penting penuh kemuliaan, bukan dengan alam lembut untuk sebongkah emas.Kangmas hanya berangan-angan. Percaya padaku !, Mas Samekto ,aku istrimu!. Semua lelakon urip pernah kita lalui, “
“Aku tidak bisa Sawitri, Samekto harus mengalahkan para piyayi se Kadipaten Surakarta, mereka yang sombong harus tahu siapa Samekto !”.
Tubuh Samekto yang sudah tiada memiliki daya, kini berada di pelukan Sawitri. Di dekatkan bibirnya ke telinga Samekto untuk sebuah rayuan yang hangat demi menaklukan batu karang yang semakin mengeras. Dari dalam rongga matanya, kini sorot mata laki-laki itu semakin meredup, semakin pula hilang angannya untuk menggapai kekayaan yang kini hilang. Dia sekarang lebih menghargai makna sebuah cinta dengan Sawitri sang bidadari dari sorga yang mendampinginya selama 20 tahun. Peraduan di rumah tua itu kini senyap.

Senin, 27 September 2010

Puisi ANAK SINGKONG

GERIMIS DI TENGAH KEMARAU

Aku mengusung singkong, ubi jalar dan tanaman sayur,
Yang tumbuh di halaman rumah
Ke dalam bilik kamarku,
Agar terasa hangat hatiku, jantungku
Darahku, yang terbujur kaku,
Meski ini bukan gerimis terakhir
Yang mengguyur dinding bilik
Terbuat dari anyaman bambu
Membasahi ilalang di atap rumahku,

Namun sepiring nasi lusuh
Dengan sekerat tempe
Dan dibasahi sayur asem
Mampu mengganjal laparku,
Dengan senyum beribu warna
Istrikupun menghangatkan tubuhnya
Dengan sayur dan kue-kue pasar
Agar di tengah malam tak terjaga
dari teriakan dinding perutnya

Di meja yang tiada seberapa kokohnya
Berkaki bambu sebesar lenganku
Tertata makanan hangat
Agar anak-anaku tiada menghujamkan
Tangis bernada sinis
Karena kosong isi perutnya,
Meski perut yang mungil itu
Telah akrab dengan jaman

Aku menari nari di atas lantai tanah
Dengan radio butut yang berwarna kusam
Sekusam warna pagar rumahku
Yang mengumandangkan tembang jawa
Anaku sontak memburuku
Bagaikan kupu kupu di kebon belakang
Berhamburan memesariku
Istriku hanya tertawa hingga jelas
Lesung pipinya

Inilah sejuk…….
Bukan lantaran rumah berdinding semen
yang halus mengkilap
Putih cemerlang, bergurat jeruji penjara
Seperti pada loji para petinggi
Berdinding marmer nan licin
Sehingga berulang menjatuhkan musuhnya

Gerimis tak berniat surut
Aroma tanah yang dilekang kemarau
Masih saja memenuhi dinding bambu
Bayang hitam merengkuh bilik bambuku
Seloroh kini telah berada di atas bantal
Dengan dengkuran yang menepiskan
Getir yang mengitari pembuluh nadi

(Semarang, 26 September 2010).


ANAK SINGKONG


Jangan kau malu anaku,
Kala sepeda ini dikayuh, melewati jalan
yang kering dengan batu batu terjal
mencibirkan…makna
Jangan kau berangan “duduk” di kursi
Hulubalang raja
Yang berenda kertas berhias sutra
Lantaran kau adalah anak “singkong rebus”
Yang selalu bisa mengganjal perut
Bila matamu nanar
Merangkul kegetiran……

Anaku….
Kau bukan anak menteri di atas sana
Tapi tak harus kau melangkah surut
Kejarlah kedamaian
Dengan kedua tanganmu yang teduh
Meski sorot matamu redup
Tak mampu menerangi sudut langit

Jangan kau kejar rembulan…anaku….
Bila separonya telah dihimpit awan gelap
Kejarlah bintang di langit
Bila awan telah menyodorimu
Senyum indah
Berdoalah bila benakmu telah
Menyimpan apa yang ada di kepalamu…..

(Semarang, 26 September 2010).

BINTANG KEJORA

Apa telah kau besihkan beranda rumah
Meski hanya berlantai tanah liat
Agar tegar langkahmu, membidik bintang kejora
Warna warni,
Di bibir langit,
Apakah benar kau mampu menyuntingnya,
Bila melewati remang malam
Beterbangan kelelawar penghisap darah
Dari urat nadimu yang kecil….tak berdaya

Namun tiada juga kau bersalah…..
Bila kau memungutnya dan kau simpan
Dalam cucuran peluhmu..
Karena kau masih tegar
Melangkah pada kedua kakimu
Dan legam bahumu telah cukup kokoh

Biarlah emak dan bapakmu
Melepasmu di pagar luar rumah
Janganlah kau hirau, pada guratan wajah
Yang kami sisakan untukmu…..
Tengoklah kebon sayur bila
Telah gontai langkahmu

Semarang, 26 September 2010).


ABANG BECAK

Pada langit, bumi, lembah dan ngarai
Aku pekikan…..
Aku tiada pernah merasa lelah
Mengusung kehidupan
Di hari yang mengigit dan
Dan nafas yang menerkam

Jalan ini adalah miliku
Meski dipusari gedung bertingkat
Beratap jalan laying, berwajah gincu tebal
Aku akan terus menerjang
Meski debu jalan menghardiku
Demi manja istriku dan anaku
Semarang, 26 September 2010).

Minggu, 26 September 2010

BUKU HARIAN

Usianya kini telah hampir 55 Tahun, tergolong belum uzur betul. Namun karena penyakit gulanya telah menggrogotinya sejak usia 45 tahun, kini diapun layaknya manula yang tiada berdaya. Maka hari-harinya hanya dia lewati dengan membaca dan membaca. Kadang itupun masih membuat jiwanya terkungkug kegetiran , di tengah rumah gedong yang hanya dihuni dia seorang diri. Namun mau apa lagi, toh dia hanya manusia biasa, yang tiada punya daya upaya.
Pagi hari itu dia mencoba lagi membaca buku harian yang dia sempat tulis sejak muda. Karena hidup bagi dia adalah suatu esai keindahan kala masih bersama anak serta istrinya, menempati rumah mewah di perumahan sinder Pabrik Gula Jatiibarang Kabupaten Brebes. Kala itu diapun tidak mau melewati hidup yang indah begitu saja, bersama istrinya Diajeng Melati. Prmadoaa di pabrik gula tersebut.
Istri yang dia cintai itu memang putri pimpinan pabrik gula tersebut, yang sudah barang tentu tergolong putri gedongan dan manja. Dapat dikatakan diantara rakyat se wilayah Jatibarang tiada yang melebihi kecantikannya, apalagu kekayaannya. Hanya dialah yang mampu merobohkan hati Prakoso, pemuda kalangan pinggiran, namun memiliki etos kerja yang brilliant, pandai memimpin, murah senyum, cerdas dan patuh pada pimpinan. Sehingga tidak heran bila dlam waktu sekejap karirnya meroket di pabrik gula tersebut.
Namun saat itu keteguha hati Prakoso menjadi luruh, kala berjumpa kembang mawar yang wewangi, yang mampu merobohkan hati siapa saja yang menjumpainya. Meski semula Prakoso tahu betul bahwa bukan wanita itu yang dia inginkan menjai pendamping hidupnya. Dia lebih menyukai wanita dari kalangannya yang penuh memberi arti dan sangguh mampu menjadi pelabuhan hatinya. Bukankah maghligai pelaminan seperti itu yang dibutuhkan oleh setiap insan.
Namun Diajeng Melatipun tidak mau membiarkan saja kumbang jantan yang memliki prestai kerja yang handal, hanya Prakosolalah satu-satunya pekerja yang memenuhi persyaratan menggantikan ayahnya kelak dikemudian hari. Maka Diajeng Melatipun tidak ragu lagi mengulurkan kedua tangannya untuk menerima kehadiran Prakoso, sang mandor yang juga memiliki pesona yang romantis, tidak kalah dengan putra bendoro koleganya.
Menyikapi niatan putrinya untuk menggapai masa depannya itu, Raden Mas Soenaryopun menyambutnya dengan bahagia. Meski silih berganti para putra bendoro melamar putri kahyangannya, namun Diajeng Melati justru menyam,bitnyua dengan sikap dingin, pertanda dia belum menemukan pilihannya.
Bagi Raden Mas Prakoso kejadian itu sudah 35 tahun berselang, namun rasanya kenangan itu baru saja melintasinya di pinggir hatinya yang kini tinggal kepingan keputusasaan, semenjak belahan jiwanya meninggalkannya bersama kedua putrinya yang sudah beranjak ewasa. Namun kenangan itu, sepertinya masih melekat di kehidupannya, kala lembar demi lembar buku hariannya di baca. Sampailah pandangan matanya tajam menyorot sebuah halaman lusuh, namun menyebabkan hatinya yang semula ditaburi bunga kini terhempas dalam kepiluan.
Diambilnya nafas dalam dalam untuk menyegarkan kemabli tubuihnya yang sudah lemah tak berdaya. Ketika suatu pagi, ketika dia bangun dari tidurnya. Rasa kaget menelikungnya saat melihat istri dan
kedua anaknya berpamitan entah hendak pergi kemana. Sementara andong milik keluarga ningrat itu sudah menunggu di pintu regol.
“Melati .! Tunggu dulu, kau mau kemana ?”
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Melati, hanya terlihat dia menyibukan diri mengemasi koper berisi pakaian dan perhiasan milik dia dan anak-anaknya.
”Melati, aku suamimu, berhak melarang atau menijinkan kemana kau dan anak-anaku pergi”
”Lantas kalau kau suamiku, kau mau apa ?”
”Aku berhak menerima penjelasan darimu, apa maksud semua ini?”
”Apa perlu lagi kujelaskan, apa kau masih berhak menerima penjelasanku”
”Aku masih suamimu yang sah, Diajeng Melati mengertilah, ini semua bukan kemaunku”
Kembali rumah mewah berarsitek Eropa itu menjadi lengang, kini hany a terdengar suara isak tangis dari kedua putrinya, yang mulai beranjak dewasa, yaitu Rr. Caroline Widiati dan Rr. Elisabeth Muniarti. Sementara itu sebentar-sebentar terdengar ringkik kuda andong milik keluarga piyayi pabrik gula tersebut.
”Kalau kau ingin penjelasanku, sekarang juga aku akan ke Pakde Raden Winata di Cirebon, akau akan tinggal di sana. Kamu sudah tidak mampu lagi menjadi suamku, kamu sudah tidak mampu lagi menafkahi keluargamu. Yang kamu lakukan hanya mengumbar nafsu dengan wanita-wanita inlander itu.”
”Tap itu dulu kan, mam ! ”
”Ya dulu waktu kau masih masih bugar dan banyak menyimpan gulden. Sekarang mana ?”
”Lagian di luar masih banyak ekstimis republik yang akan membahayaka perjalananmu”
”Aku sudah minta bantuan Tuan Kepala Polisi dan mereka mengirmku beberapa petugas ”
”Tunggulah dulu barang beberapa hari, kita bicarakan baik-baik”
”Kamu lupa Mr. Prakoso !, bertahun-tahun aku berusaha mengajakmu bicara masalah masa depan kita. Tapi kamu selalu m,enghindar, bahkan semakin kamu terporosok lebih dalam dengan wanita-wanita jalang dari temat-tempat kasino itu, berapa ribu gulden telah kau hamburkan. Sekarang kau mau menutup mata lagi”
”Bukan itu maksudku Melati !, toh aku sudah menyadari itu dan aku sudah minta maaf masa laluku.. Aku harap jangan pergi dulu, toh masih banyak kesemptan bagi kita untuk saling memperbaiki”
”Ketahuilah Mr. Prakoso, aku pergi bukan masalah itu saja, tapi demi masa depan anak kita. Kedua putrimu yang cantik harus bersekolah di sekolah terpandang, sekolah para bendoro, karena kita adalah keluarga terpandang. Sedangkan kamu sudah tidak mampu lagi membiayai kedua putrimu, karena kau sudah bangkrut. Suamiku”
Prakoso merasakan jantungnya berdegup lebih kencang, kedua kakinya ternanam di bumi dalam-dalam. Kini diapun hanya mampu memandangi kepergian istri dan kedua putrinya. Seluruh tubuhnya terasa tak bertulang lagi, Hanya seperti inikah sebuah hidup yang harus dijalani, ataukah memang dunia tiada bersahabat lagi.
Tanpa menoleh sedikitpun kearahnya Diajeng Melati berlalu dengan angkuhnya, hanya pandang mata kedua putrinyasaja yang membekas jauh di dalam kalbunya, bersama dengan airmata mereka. Kapankah
kita bertemu lagi putriku, demikian bisik hatinya, bersama dengan ringkik kuda yang semakin lama semakin tak terdengar lagi.
Ditutupnya lembar buku harian itu yang menyisakan perasaan pedih dan haru. Meski sebuah halaman yang paling dia benci namun sekaligus paling sering dibaca hingga kelihatan kumal. Sebuah nafas panjang ditarinya dalam –dalam, bersama dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya. Dengan tangan yang bergetar terpagut perasaan rindu terhadap sebuah pertemuan, Prakoso yang tiada berdaya itu membuka lembaran berikutnya. Lembaran yang mengisahkan perjalanan panjang seorang laki-laki yang terhempas dari badai kehidupan.
Berkali kali dirinya mengunjugi Wedana Kresidea\nan Cirebon, Bendoro Winata untuk menyakan kepergian keluarganya. Dari keterangan paman Diajeng Melatilah dia tahu, bahwa keluarganya kini berada di Batavia bersama dengan pembesar Kerajaan Belandan Mr, William, seorang arsitek terpandang dan sangat kaya. Semula memang Diajeng Melati tinggal bersama pamanya, namun entah alasan apa merekapun sepakat untuk hidup di Batavia, tanpa meninggalkan alamat yang jelas.
Serasa baru kemarin kegetiran itu berlangsung, meski telah lima belas tahun berselang. Pandangan matanya menjadi sendu, kursi goyang dari kayu jatipun telah berhenti bergoyang. Lantaran sebuah insan yang penuh kebekuan hidupnya telah terbujur berada di atasnya. Prakosopun tambah semakin jauh dengan kehidupan yang dimilikinya, yang sarat dengan derai tawa canda dikala m,udanya. Kini didnding rumah gedongan sang sinder itupun terasa semakn menghimpitnya, sehingga paru-parunya tersa sakit untuk bernafas.
Sebuah suara lembut dari dalam kamar tidurnya yang lengang telah memanggilnya , dengan sisa tenaga yang masih ada diapun berusaha menuju arah suara itu. Kemudian dengan keputusasaaan akan suatu pertemuan, kini menemani dia di pembaringan. Dinding rumah tuanya kini terasa lebih longgar lagi. Warna dinding rumahnya yang tadi kusam, kini mulai memancarka sinar putih yang menyilaukan, sang sinderpun hanya mampu memandanginya. Jiwa yang dipenuhi lautan pasrahpun kini menunggunya, tatkala dia terbang ke awan bersama sinar putih itu. Kamar itupun kini lenggang.

BERKASUR ANGIN

Himalaya Wikipedua 2010
Kedua kakinya sudah terasa berat untuk melangkah, urat nadinya tampak membesar dan menggurati kulit kakinya. Langkah yang berat itu terus menapaki jalan jalan kecil, terpaan angin sore mulai menghalangi langkah yang mulai gontai. Matanya yang tersembunyi di lengkung pipi sesekali menatap tajam dan lurus ke depan, sesekali juga menatap dalam dalam jalan jalan kecil desa yang masih berwarna merah tanah liat. Namun dia sama sekali tiada sedetikpun berani menatap cakrawala.yang bersemburat awan jingga, meski berkas berkas sinar matahari masih kelihatan menyela daun daun pisang sepanjang jalan itu. Lantaran di cakrawala itulah kini kedua anaknya merangkai kehidupam mereka.

Berias bunga warna warni, bercanda ria dengan bidadari penghuni cakrawala senja. Layaknya hidup di Kahyangan Suralaya Dari kedua kulit mereka memancarkan aroma keharuman surgawi. Mereka sama sekali tiada mengenal waktu, angan dan membanting tulang demi sepiring nasi jagung, sekerat singkong. Mereka tidur di kasur angin, dengan bantal bersusun tujuh.Mereka hidup di suatu kehidupan yang sama sekali tiada kebohongan, kemunafikan dan kebiadaban

Meski cuma sesekali, kedua anaknya tiada pernah mau menengoknya, apalagi untuk menemaninya menebar semai kehidupan di sawah mereka yang tidak seberapa luasnya. Sekeranjang sembilu kini mengiris hatinya yang terus saja melemah melawan kendaraan waktu yang tak mau meletih. Gubug bambunya kini sudah mulai kelihatan, tak berdaya melawan ilalang yang tingginya hampir separo tubuhnya. Dia hanya mampu menyelipkan hidupnya di sebuah gubug tua di tengah padang, yang berada di sudut kota bersama istrinya yang renta.

Wajah gubug itu langsung menyeringai dan memberikan senyum yang hambar, senyum yang dia sendiri tak mampu mengartikan. Hanya saat saat bahagia saja yang ada di benaknya kini. Meski kenangan itu telah lewat entah berapa puluh tahun. Saat Dirman anak sulungnya membantu menyisir tanah subur di sawahnya untuk semi padi dan palawija sebelum matahari berani menampakan wajah di kampung yang telah didera revolusi, sementara Nurlela putri bungsunya sibuk menghidangkan teh alam panas bercampur gula aren. Istrinya Aryati telah terlebih dahulu menyongsong kehidupan dengan pergi ke kebun untuk memetik sayur sekedar untuk sarapan keluarga petani ini. Itulah sketsa hidup Soenaryo dan keluarganya di tengah badai revolusi, yang ditiupkan komintern-komintern yang ganas.

Namun setumpuk kisah perjalanan anak manusia yang dia miliki, yang memenuhi rongga dadanya kini telah menjadi debu, termasuk kedua anaknya yang ikut terbakar bersama rumahnya, yang kala itu terbuat dari papan jati yang megah menjulang tinggi, setinggi cita-citanya kala dia masih muda. Rumah dan kedua anaknya ikut menjadi debu-debu revolusi kala komintern membakar sebilah kehidupanya secara biadab.

Sementara itu istrinya yang tercinta, sudah tak bertulang lagi lantaran terpagut dalam kegetiran. Iapun langsung pinsan dipelukan laki-laki tegar pemimpin pemuda yang kontra komintern dan berusaha menepis kehadiran komunis di tanah kelahiranya Ampel, Boyolali . Tetapi Tuhan yang Kuasa masih berkenan memberikan KaruniaNYA, istrinya mampu membuka tabir semu perlahan,mulai dan mampu mengerti makna realita hidup. Meski mereka hanya segelintir hamba Tuhan yang terselip di bingkai kehidupan yang telah pengap.

“Aku sudah buat teh hangat kesukaanmu, Pak!, minumlah sebelum dingin” . Suaminya hanya diam membisu, tapi teh hangat kesukaanya kini telah membasahi tenggorokanya, rona wajahnya kini agak segar, secuil keceriaan mulai muncul. Direbahkan tubuhnya yang tinggi itu pada korsi renta, yang sudah kusam tapi masih setia menemani Soenaryo sejak

“Alhamdulillah, hari ini lahan kita siap untuk ditanami, Bu !. Besok aku coba untuk menebar bibit tembakau”
“Aki ikut, ya Pak “
“Sudahlah, kan pinggangmu belum sembuh, istirahatlah dulu sampai kamu sehat, Kalau kamu sakit, siapa yang masak, siapa yang merawat gubug ini ?”
“Rasanya tambah hari bukanya tambah sembuh. Tapi tambah terasa sakit, Pak “
“Makanya istirahat, biar tak kambuh lagi. Harusnya memang batu ginjalmu dioperasi saja Bu ?”
“Biaya darimana, Pak ?”
“Aku melihatmu semakin hari,semakin pucat. Kita jual saja sawah kita to Bu, untuk biaya operasimu ?”
“Kita mau makan apa ?. Hanya itu harta kita. Berapa banyak yang sudah kita jual to Pak. Sekarang biarlah yang tersisa, menjadi sawah kehidupan kita”
“Aku masih mampu mengayuh becak, Bu ?”
“Masya Allah, Pak !, tua bangka seperti kita mampunya hanya menunggu berkalang tanah. Kalau tiap hari kamu masuk angin terus bagaimana mau jadi tukang becak ?”.

Tiada sepatah katapun yang mampu dilontarkan Soenaryo dari mulut yang terkunci, terkatup bibir bibir yang menghitam dan keriput. Teh manisnya kini mulai mendingin, namun direguknya hingga habis. Gubugnya kini dikungkung oleh temaram senja yang meremang. Namun sebersit anganya kini mulai bergayut di hatinya. Betapa berbedanya dia kini dengan kehidupan kala dia masih muda, kala pemuda di desanya menunjuknya dia menjadi ketua front pemuda. Pemuda Soenaryo yang kondang sebagai pemberani tiada tandingnya, saat itu telah malang melintang di Boyolali menggalang kekuatan anti komunis.

Maka suatu hari yang tiada pernah dilupakan, di tengah selimut malam yang menggigit, pintu depan rumahnya telah digedor kawanan pemuda PKI yang jumlahnya ratusan, yang dipimpin Sadewo simpatisan Barisan Tani Indonenesia Boyolali.

“Kamu tanda tangani surat ini, atau mati “ pekik Sadewo dengan sorot mata yang tajam dan tangan yang kekar kini sudah berada di leher Soenaryo. Pekik ketakutan kedua putra Soenaryopun kini memenuhi setiap sudut ruang tamunya yang luas, berdinding kayu jati dan berlantai semen.

“Sadewo, kamu anak kemarin sore, jangan berani berhadapan denganku. Sedikitpun aku tak gentar, bila harus berhadapan denganku. Sampai kapanpun aku tidak akan menjadi anjing komunis di negara ini. Aku manusia beragama, bukan kafir seperti kamu ! “
“Jangan banyak bicara, tanda tangani ini, atau seluruh rumah ini akan hangus”
“Anak ingusan beraninya hanya menggertak, apa ini yang disebut revolusi merah. Apa dengan cara begini Aidit akan memimpin negri ini. Aku tak sudi dipimpin manusia-manusia biadab sepertimu. Ini yang kau bilang Indonesia di Jalan Baru gagasan Muso itu, ayo jawab, Sadewo !, atau kamu sekarang menjadi anjing…yang hanya berani menyalak”

“Kurang ajar, kau pantas mati, namun saksikan dahulu rumahmu dimakan api. Memang harus dengan cara begini manusia kontra revolusi pantas mati”

Soenaryo kini tak berdaya, kala beberapa pasang tangan menyeret tubuh dia dan istrinya menuju halaman rumahnya yang luas. Beratus mulut mulut biadabpun kini ikut mengulilti pasangan suami istri itu dengan cacian “anjing kapitalis, anjing imperialis, anjing nekolim dan cacian lainya yang sudah tidak mampu lagi dia dengar. Kini Soenaryo menyaksikan sendiri rumahnya terbakar habis bersama dengan kedua belahan jiwanya. Teriakan kedua anaknya dari dalam rumah begitu menusukan selaksa kegetiran dalam hatinya, yang tiada pernah mampu dia lupakan.

Kursi kuno kayu jati kini terlihat bergoyang pelahan, lantaran darah dalam nadinya mendidih dan menggetarkan otot tubuhnya yang telah rapuh. Kedua tanganya mengepal dengan dengus nafas yang panjang.

“Sudahlah, Pak. Memang inilah jalan hidup kita”
“Kenapa jalan hidup kita seperti ini. Aku selalu berdoa tiap waktu, agar Dirman dan Nurlela di alam kelanggengan berbahagia. Mereka berdua adalah anak anak korban revolusi, sudah selayaknya mereka mendapat pertolongan dari Tuhan yang Kuasa”
“Itulah kekuatan kita, Pak !. Hari sudah malam dan pinggangku semakin nyeri tertusuk angin malam. Aku sekarang mau tidur, tubuhku sudah mulai lemas. Aku membayangkan anak anak kita di sana selalu tidur berkasur angin, sehingga tubuh mereka tidak merasa penat. Berbeda dengan kita yang renta, tidur di kasur empukpun masih terasa sakit “

Soenaryo segera mengulurkan tanganya untuk membimbing istrinya ke tempat peraduan di dalam bilik bambu yang mulai rapuh di makan usia. Kini mereka hanya pasrah menghadapi hari esok yang kelam.Namun mereka berdua masih menyelipkan perasaan bahagia, karena mereka yang menghancurkan hidup keluarganya telah mendapat balasan yang setimpal.

Selasa, 21 September 2010

KAMPUNG ILALANG

( Sketsa Berbagi Kasih dan Peduli di Era Keterpurukan Sosial dari Penulis Pinggiran)

SEPERCIK AIR
Mereka mampu menumpahkan batas pandang
Menyisir tiap celah bukit
Yang melingkungi
Untuk melihat semburat,
Rambut Sembodro atau Supraba
Yang beruntai kuning keemasan…

Sebutir jagung yang tumbuh
Di pematang kebun berbatas keadilan
Dirimbuni daun singkong, mentimun
Untuk bekal hari esok
Mereka untai dalam birama,
Agar anak cucu mampu bermandi
cahaya rembuilan di tengah sawah
Yang mengering tanpa gemercik iba

Mereka saling bertaut…bila ufuk telah redup
Kala benang sutra kehidupan
Dirajut dengan tepi yang tajam
Dan menghujam ke tengah jantung mereka
Terhempas dalam sorot mata
Yang mampu menguliti mereka

Pagipun tetap berpagar
Burung yang memadu hasrat
Berbulu warna warni, ketika angin meradang
Menggandeng tikus tikus rakus yang merobohkan
Akar rumpun ilalang

Illalang itupun merobohkan daunya
Menuju kaki langit
Sebuah teriakan mereka
Engkaulah sepercik air……
Kamilah berbaju kekeringan
(Semarang, 21 September 2010)

PARADE JALANAN

Mereka tak lebih dari jerami
Yang ditumpuk di tepi jalan kehidupan
Karena terpanggang angin kemarau
Yang bersemayam
Dari empat penjuru kaki langit
Apa arti sebuah desah gemerisik
Dari daun ilalang yang mengering
Tapi tiadalah mereka merenggut
Rumpun akar yang tertanam di bumi
Engkaulah milik kibasan bumi

Janganlah kau tebarkan lagi
Biji biji sehingga melupat gubug bambu
Hingga meranggasnya pohon pohon kekar

Gemerecik air kalipun
Akan menghijaukanmu
(Semarang, 21 September 2010)


JANGAN KAU TANGISI DUKA LARA
Di sudut kebun tiada bernaung
belas kasihan…….
Di tepi bunga Raflesia berdaun kokoh
Menyeruakan bau busuk
Menusuk semata rumpun tiada berdaya
Apalagi di samping bunga,
berkelopak sipit
Dan berakar tunggang
Bukankah bunga kokoh
Yang bertangkai seputih salju…
Telah layu…..

Apalagi deru perubahan
Telah mengenyangi perut kebun itu
Namun biarlah rumpun berkalang sudut
Berakar di kubangan tanah sejuk

Duka adalah tabir….
Milik anak ingusan
Tiada mampu meraih kanvas
Di belahan bumi
Di balik Mahameru
(Semarang, 21 September 2010)

KASIHKU
Telah terpagut aku di senja hari
Ketika kawanan merpati berbulu jingga
Memenuhi langit
Belahan barat

Aku kumpulkan suara cengkerik
Untuk menyuarakan symponi hidup
Aku kumpulkan pula air tawar
Yang kujaring dari angin malam
Untuk membasahi cinta bening ini

Temaramnya malam bukanlah kutukan Tuhan
Yang bersemayam di hati kita
Malam adalah kala langit
Ditaburi sayap
Dari sang putih bersih
Agar mengirimkan pesan
Untuk beranda hati kita
Yang dihinggapi burung hantu
Mencengkeram hingga ujung sendi

Akupun bersama sang pagi
Siulan burung dan batang bambu
Menggeleparkan hati kita
Untuk menantang istana ufuk
Merentangkan bilah daun kita
Kita adalah ilalang

(Semarang, 21 September 2010)

Sabtu, 18 September 2010

Ranting Ranting Kering

 Wikimedia, 2010
Hanya tinggal mengandalkan ke dua kaki yang terbungkus keriputnya kulit, yang melegam karena terbakar matahari. Terkadang kedua kakinya itupun gemetar menapaki pematang sawahnya yang tidak seberapa luas. Namun Suto tidak pernah merasakan adanya sebuah perpisahan. Meski kehadiran istrinya beberapa puluh tahun mendampingi dirinya hanya tinggal kenangan. Setelah semua kepengapan hidup dan kesengsaraan yang mendera mereka telah cukup.

Rupanya Tuhanpun memilih Suminah untuk segera menghuni langit dengan taman bunga warna warni, ketimbang harus menghuni dunia yang penuh tipu daya. Suminahpun meninggalkan Suto dengan tenang, karena Suminahpun tidak mampu melawan kodrat yang digariskan oleh Yang Diatas. Apalagi diapun tahu bahwa suaminya adalah laki-laki yang tangguh, terbukti dari seluruh hidup mereka, hanya kesengsaraan dan kemiskinan yang mengakrabinya.

“Aku sakit, Pak !” Demikian Suminah mengeluh dihadapan suaminya, pada suatu malam. Setelah seharian mereka di sawah.
“Tidurlah, besok biar aku saja yang kesawah. Kamu tidak usah membantu”
“Ah Cuma masuk angin, besok juga sembuh”
“Kamu sudah cukup umur, Bu !. Jangan memaksa diri”
“Tapi kalau di rumah juga mau apa ?. Aku senang mbantu kamu, Pak !. Aku juga tidak sampai hati sama kamu Pak. Aku lihat kamu sebenarnya sudah tidak kuat lagi ke sawah. Pak. Duh Gusti kemana perginya Yono dan Noto. Sudah bertahun-tahun belum pulang juga”
 Ranting Kering,Sumber Pondok SASTRA HASTI Smg
“Sudahlah, jangan mengungkit-ngungkit mereka lagi Bu !. Nanti kamu tambah sakit. Kita tidak punya biaya untuk ke rumah sakit lho Bu !. Jaga kesehatanmu !”
“Aku seorang ibu Pak, aku yang melahirkan mereka berdua. Dari kecil aku asuh, setelah dewasa entah kerja di mana. Mereka berdua lupa dengan kita berdua, yang sudah renta, Ya Pak ?”.
“Jangan kuatir, Bu !. Tidak lama lagi mereka pasti pulang. Mereka tidak lupa dengan kita Bu, aku yakin. Hanya saja mereka tentunya belum mendapatkan kehidupan yang layak”

Suminah tidak menjawab lagi, namun tatapan matanya tetap kosong, rasa rindu kepada dua anaknya kian menjadi-jadi saban hari. Apalagi bila mendengar teman sekampung Yono dan Noto telah berbahagia dengan istri dan anak anaknya. Namun Suminah adalah wanita yang telah biasa mengalami berbagai macam goncangan hidup.
Namun entah mengapa rasa rindu kepada anaknya, beberapa minggu ini kian tak karuan.

Baik Suminah sendiri, apalagi Suto adalah manusia biasa yang tidak tahu kodrat dan iradat dari Tuhan Yang Kuasa kepada hambanya. Rupanya rasa rindunya itu telah meluruhkan ketegaran wanita petani yang hidup di desa, Suminah kinipun hanya berbaring ranjang lapuknya dan sebuah kekuatan diluar kasat mata telah membius jantung dan paru. Sehingga Suminahpun kini hanya terbujur dingin.

Hanya linangan air mata Suto saja yang mengiringi kepergian belahan jiwa yang selama 30 tahun bersamanya mengarungi dunia yang tak pernah menjadi sahabat mereka. Rasa penyesalan yang dalam telah menyelimuti ruang hati Suto, mengapa dia tak mampu mempertemukan istrinya dan kedua anaknya. Namun kala itu kemana dia akan mencari kedua anaknya. Disamping itu dia dan istrinya hanyalah sepasang manusia yang sudah uzur, yang tidak mungkin berpetualang dari kota ke kota mencari mereka. Karena mereka berdua hanyalah ranting ranting yang kering dan rapuh.

Suto kini sudah tak mungkin lagi terus larut dalam bayangan Suminah, karena dia kembali disibukan dengan panen. Tangan dan kaki yang keriput itu masih saja bersemangat untuk menuai sebuah kehidupan walau hanya secercah hinggap pada awan jingga di ufuk barat, apalagi tanpa bantuan Suminah istrinya. Tak khayal lagi kini rasa rindu kepada semua keluarganya menjadi kental. Namun bagaimana lagi, bila ranting kering yang sudah rapuh, hanya menunggu jatuh ke tanah dihempas angin kehidupan.

Perjuangan melawan ganasnya penghidupan membuat mereka saling berpisah satu sama lain. Kedua anaknyapun memilih meninggalkan desa itu lantaran sudah tidak memiliki harapan lagi. Yono putra sulung mereka bergabung dengan rekan satu desa yang berniat mengadu nasib ke Lampung untuk bertranmigrasi. Sementara itu Noto bertekad merantau ke Malaysia dan berjanji untuk sering menengok mereka beberapa tahun sekali. Namun nyatanya mereka hanya meninggalkan sebuah harapan dan kerinduan untuk sepasang ranting yang kering yang ditengah terik musim kemarau.
Harapan tinggal harapan, Sutopun hanya mampu merenungi kepergian semua harta miliknya yang tiada pernah tahu berapa nilainya. Apalagi semenjak kepergian Suminah, Suto telah kehilangan seisi dunia ini. Malampun bertambah larut, langit langit kamarnya yang kumuh dan berdebu kini menjadi saksi. Dipegangnya kata hatinya yang mampu membesarkan dirinya, maka diapun tidak mau mendengarkan lagi hati kecilnya,

Suto kin terlelap dalam sebuah mimpi panjang, ketika dia dan kedua anaknya bermain di tengah sawahnya yang mongering karena kemarau menerpanya. ,Mereka bertiga berkejaran dan melepas tawa riang hingga terdengar dari tiap penjuru padang tersebut. Mereka bermain layang-layang, menangkap kerbau, mencari belalang hingga datanglah Suminah yang berpakaian serba gemerlap, bersulap benang sorga dan semerbak wangi bunga sorgapun merebak memenuhi hidung Suto. Suto tak mampu menolak Suminah yang menjulurkan tanganya untuk mengajak pergi ke penjuru langit. Sementara kedua anaknyapun hanya melambaikan kedua tangannya dengan senyum bahagia. Dan heninglah peraduan Suto.

PUISI DI TITIAN BENANG SUTRA

SERIBU MIMPI
Aku dapati lembaran kain sutra
Yang kau gulung…..
Hingga tepinya menyentuh
sebuah buku harian
tak tergores sebuah penapun

Aku hampiri dengan nyanyian burung
Laksana teriakan ilalang yang
dipusari angin dini hari,,,,

Seribu bentang kini kau tebar
Haru biruku telah disodori
Oleh kawanan kenari
Bersayap tak menampakan hasrat
Biar aku kuliti sendiri
Detak jantung yang hanya menyepi

Aku berteriak…melewati batas pandang
Sekuat yang kau duga
Biarkan saja “ruh” dalam
binar nyanyiku…..
Menjadi saksi
Kala malam seribu bunga
Tumbuh dalam kubangan seribu mimpi

(Saat Ultahku, September 2010)

TELAH MENEPI PERAHUKU
Pernahkah kau lihat…
Bila perahu telah bertegur sapa
Dengan dalamnya lautan
Seribu misteri
Pernahkah juga kau lihat…
Meranggasnya daun beluntas
Dipagut nyanyian kemarau…
Di pantai warna warni

Telah kau lihat lihat
Saat benang sutra di hatimu
Telah tersingkap
Kala…..
Bocah bocah menyanyikan tembang
Purnama di halaman rumah

Tak ada nyala api yang benderang
Hanya kulit mereka……
Diseka temaram sang rembulan
Di pantai itulah sauh kutambatkan
Agar perahu menghitung nafas

(Saat Ultahku, September 2010)

SEHALUS BENANG SUTRA
Ketika kita terjaga…lantas
Titian panjang harus kulewati
Agar aku mampu melihat
Halaman hati….berenda
Sapaan pagi

Aku hangatkan bekal
Yang telah membujur …dingin
Dan tiada mengenaliku lagi
Lantas benang sutra di sudut bibirmu
Telah menjerat awan senja
Aku tidak mau lagi
Berkalang dengan buruk gagak

Aku tak mau lagi
Menukikan sayap hingga
Menghempas bumi
Kita jaga warna langit
Agar mirip dengan untaian…
Benang sutra di sudut senyumu
(Saat Ultahku, September 2010)


ANTARA SEMERU DAN MOUNT EVEREST
Saat engkau bimbang..
Janganlah menghitung bintang
Saat engkau dingin
Jangan sekali
Menjaring angin

Lekatkan sayapmu..
Pada ujung Mahameru
Lantas akupun mampu
Memandang Mount Everest
Kini keduanya bersatu
Pada sajak penuh arti
(Saat, Ultahku September, 2010).

Jumat, 17 September 2010

Angin Kemarau Di Tengah Padang

Bila manusia memang harus meniti takdir dari Yang Kuasa, itu memang kekuatan manusia itu sendiri. Memang kadang begitu pahit yang kita rasakan, untuk sekedar mereguk curahan kodrat. Namun memang harus bagaimana lagi, karena kita hanya manusia biasa. Mampukan kita memberontak melawan rengkuhan langit biru, disanalah mahkota untuk kita akan dikenakan bila kita mau bersabar meniti kemauan Yang Kuasa.
Beberapa kali sudah Winda menjerit menghempaskan apa yang direngkuhnya dalam hidup, karena apa yang didapatkan selalu kegetiran yang mengganjal tenggorokan dan dada Winda yang tidak sebera kokohnya. Pria pujaan hatinya yang selalu member janji janji emas tiada pernah mengemas janji dan menyodorkan padanya dengan sebilah cinta suci. Hanya sebilah sembilu yang menusuk tiap sudut hatinya.
Winda kini hanya winda yang telah mati hati dan jiwanya, tiada lagi asa untuk mendapatkan lagi kehangatan dari pria manapun, mesti silih berganti pria mencoba untuk merobohkan kedinginan yang selalu saja terbujur.
Aku mengenalnya dengan raut mukanya yang pucat pasi dan dada penuh rasa benci, layaknya harimau lapar yang hendak menerjang mangsanya. Sementara matanya tajam menikam meneliti setiap pori-pori kulitku. Hanya kadang senyum tipis dan sinis yang diharapkan mampu menerbangkan tubuhku entah kemana. Tetapi terus saja anganku bergelut dengan diriku sendiri untuk memberi kehangatan padanya. Meski akupun tahu sebuah karang yang kokoh akan kuhadapi. Namun akupun memang harus terus mencobanya, dengan segenggam harap mampu memberikan kembang warna warni pada Winda teman sekantorku.
Rumah mungil Winda peninggalan orang tuanya kini sunyi senyap, sementara semua anak anaknya tertidur, karena siang ini angin kemarau begitu sejuknya. Sesejuk hatiku yang berhasil menemui rumah Winda. Ada segumpal ganjalan dalam dada ini bila aku menemui dia. Perempuan dengan sejuta pesona, rambut yang terurai hingga bahu, wajah manis dengan hidung mancung menghiasinya. Tetapi lebih menarik lagi bagiku adalah ketegaran jiwanya yang berhasil memingit hatiku, mengosongkan batas ruang hatiku untuk melupakan semua kenangan dulu.
“Win, aku Prasetyo” Di tengah kesunyian rumah mungil dan sederhana itu aku coba membangunkan Winda yang sedang terlelap di tengah dua anaknya yang masih kecil.
“Oh kamu Mas Pras “ Suara yang bening dan datar terasa meghentikan jantungku. Bertapa tidak suara itulah yang sanggup menghantarkan aku untuk menengok kebun bunga warna warni di langit biru.
“Maafin aku mengganggu tidurmu”
“Oh enggak Mas, aku tidur sudah dari tadi kok. Ngapain Mas datang kemari, ngapain datang ke rumah hina ini, apa nggak ada acara lain?”. Bagaikan sebilah pedang yang berkelebat menebas jantung hati ini. Jawaban Winda dengan senyuman getirnya membuat aku harus meneduhkan hatiku sendiri. Terasa kebencian Winda kepada semua pria yang mencoba menggapai hatinya begitu besarnya, termasuk kepada diriku.
“Win, kamu marah karena aku mengganggu tidurmu. Oh ya kamu boleh tidur lagi Win biar aku duduk di depan saja, nggak apa apa kok Win”
“Kok kamu menyuruhku sih Mas, silakan duduk Mas. Biar aku buatin kopi”
“Kok kamu baikan sama aku sih Win?”
“Kamu kan teman sekantorku, dan sudah banyak kebaikan yang kau berikan padaku. Hanya segelas kopi saja Mas Pras, maaf aku nggak punya apa-apa”
“Emangnya aku minta apa ?. Win rumahmu terasa sejuk, beda dengan rumah di tengah kota, gerah dan kumuh. Apalagi masih banyak tanah kosong di kanan kiri rumahmu” Winda hanya diam seribu bahasa, sempat aku tertegun memandang wajah yang tak pernah bosan aku pandangi. Wajah itulah yang selalu menyertai aku dan hatiku di setiap saat.
“Ya beginilah rumahku Mas, beda jauh dengan rumahmu. Maka aku heran mengapa repot tepot Mas Pras datang ke sini. Kalau perlu aku, besok kan kita bisa ketemu di kantor”
“Winda !, apa aku nggak boleh mampir ke rumahmu ?. Kamu seharusnya bahagia lho Win. Engkau masih memiliki Reki dan Bella, itulah kebahagianmu. Sedangkan aku, meski rumahku bagus, tetapi berisi kehampaan semenjak Santi meminta perpisahan, dan semua anaku ikut dia. Entah sampai kini akupun tidak tahu kemana anaku tinggal”
“Ah itulah kehidupan Mas, kehidupan yang akan aku jalani bersama kedua anaku. Aku sangat mengharapkan mereka berdua bahagia kelak” Winda hanya mencibirkan bibirnya dan sedikit berhias senyuman sinisnya. Meski tanpa lipstick dan make up layaknya wanita modern. Winda masih menyisaka keayuan yang alami.
“Tapi engkau akan tetap tersiksa Win, tanpa ayah mereka disisimu”
“Tolong Mas Pras, jangan ungkit ungkit itu lagi”
“Aku akan tetap memintamu untuk itu Win !. Meski sampai kapanpun. Kamu manusia yang juga berhak bahagia di dunia ini”
“Masalah itu urusanku to Mas !” Winda mula memerah pipinya. Pertanda sama sekali dia tidak mau mengingat masa lalunya.
“Winda, akupun merasakan sama seperti kamu. Bahkan kamu lebih berbahagia. Tapi cobalah kita hadapi bersama hidup ini. Tentunya kamu sudah kenal lama aku”
“Aku harap Mas Pras jangan melangkah seperti itu lagi, percuma Mas!. Sikap saya sama seperti yang dulu duu, tetap tidak berubah” Suara Winda mulai terdengar ketus hingga membangunkan kedua anaknya. Windapun segera menghampiri mereka berdua, untuk membelai si kecil Bella, agar tidak menangis. Ternyata di balik kehidupan Winda yang dingin, masih terselip kebahagiaan degan memberikan kasih sayang pada anak anaknya. Beginilah harkat dari kehidupan ini, akupun rindu dengan keteduhan jiwa seperti ini.
“Mas Pras, tunggulah dulu, aku tak menidurkan Bella dan Reki”
“Aku tunggu di luar saja Win. Di luar angin kemarau mulai kencang“
Suara dari dalam rumah kembali hening, mereka berdua di buai angin kemarau yang mulai kencang dan sejuk. Sementara aku masih berdiri di depan rumah yang berdiri di tengah padang di tepi kota. Tak lama Windapun menyusulku dan duduk di kursi tua dari bambu.
“Mereka sudah tidur, ? “
“Sudah Mas, mereka berdua memang saya didik mandiri, sehingga tidak manja” Kini terlihat rambut Winda yang panjang terberai di terpa angin kemarau, akupun segera duduk di sebelahnya.
“Win apa salahnya sih, setiap mereka bermanja kita berdua selalu disisi mereka”
“Aku nggak bisa, maaf Mas ?”
“Mereka butuh itu Win “
“Tapi mereka kan tahu kalau Mas bukan bapaknya”
“Lama lama mereka juga akan percaya”
“Mas masih banyak wanita yang cocok mendampingimu. Apalagi Mas Pras keren dan kaya serta punya jabatan”
“Apa arti semua itu sih Win?”
“Tapi bagi wanita kota kan berarti sekali Mas’
“Tapi bukan itu yang jadi ukuran hidupku Win?”
“Maksud Mas ?”
“Buat apa aku kaya, kalau nggak punya siapa siapa. Apalagi tanpa kamu disisiku”
“Ah Mas Pras berlebihan. Tolonglah Mas, aku nggak bisa Mas”
“Tapi demi Reki dan Bella kamu perlu mencobanya Win “
“Mas Pras kok terus merayuku, maaf Mas. Jawabanku sama seperti saat kita di kantin, saat kita piknik ke Bali sam temen-temen kantor. Mas pun memintaku dan jawabanku tetap sama”.
Barangkali saja aku laki laki yang paling menderita di muka bumi, akupun tak tahu lagi. Kalau toh Winda memang tidak bisa aku miliki, biarlah angin kemarau di tengah padang ini yang akan menjadi saksi , bahwa cinta kasih antara sesama manusia memang harus berasal dari lubuk hati yang paling dalam. Meski aku sudah lama kenal Winda sebagai teman kerjaku, tapi toh Winda adalah tetap Winda yang hanya bayangnya saja hadir di hidupku. Lamunanku menjadi pudar, setelah mendengar kedua Bella dan Reki yang terbangun dari tidurnya dan kini menark tanganku mengajak bermain di tengah padang.
Hari sudah hampir petang, mereka berduapun telah puas dan lelah main di tengah padang. Winda segera menyuruh mereka berdua masuk rumah untuk mand.
“Win !, aku bisa kan menjadi ayah mereka, mengapa kamu tidak bisa ?” Winda hanya menunduka wajahnya, dan sorot matanya kini berisi suatu kesejukan di balik bening air matanya. Akupun memberanilan diri untuk mengusap rambut Winda dan diapun hanya memberikan senyum penuh arti.

Nyanyian Merdu SANG GURU

Biarkan saja kokok ayam jantan tak henti menyambut pagi hari, mereka berkokok saling bersautan dari pojok desa satu dengan lainnya. Mereka begitu tak hirau dengan datangnya hari yang akan dijalani oleh kehidupan manusia babak demi babak, menurut kodrat yang telah digariskan oleh Sang Pencipta.

Pagi itu bumi Desa Kembang Arum seakan tiada menyisakan warganya yang kembali merapatkan selimutnya, meski di tengah musim kemarau udara begitu dinginnya. Kabut tebal masih enggan menatap sang mentari. Sementara itu semua celoteh burungpun tak mau peduli dengan malasnya embun yang menyelimuti mereka. Sementara semua penduduk desa, yang kebanyakan petani gurem mulai bersiap mencari secercah penghidupan, dengan menyandarkan pada palawija, lantaran musim kemarau masih menerpa mereka. Di tengah penghidupan masyarakat yang separuh nafas itulah, Nur Hadi mengabdikan diri sebagai Pak Guru.

Demikian predikat yang diberikan masyarakat desa kepadanya.Nur Hadi bukan hanya guru di SD N III Kembang Arum, namun dia juga sebagai guru bertani, bergaul, pengentasan terhadap ketertinggalan, keserasian rumah tangga dan seabreg nilai lainnya yang dibutuhkan masyarakatnya. Jubah Hitam kala dia kenakan diwisuda menjadi S.Pd. ternyata menyimpan seribu beban. Namun bagi Nur Hadi beban itu, hanyalah sebuah nyanyian merdu seorang pendidik yang ditekuni lahir batin.

Matahari sudah tidak malas lagi dan kini mulai bangkit dari cakrawala timur, jalan desa sudah dipenuhi sibuknya petani guna mencari nafkah. Debu jalan desapun tak mau kalah dalam bersuka ria, beterbangan bersama angin kemarau yang dingin dan kering.
Dengan sepeda motor bututnya Nur Hadi mulai bersiap menuju sekolahnya guna menyongsong anak-anak kesayangannya untuk mendapatkan setetes demi setetes ilmu. Namun terkadang pula dia sering menjumpai penduduk desa yang sengaja bertandang di sekolahnya sekedar minta setetes masukan guna menyelesaikan semua permasalahan yang membelitnya. Dalam hal ini jadilah Nur Hadi sebagai konsultan rumah tangga, kesehatan, bisnis yang tanpa menarik jasa serupiahpun.

 Google, 2010
Angin kemarau melambaikan semua rerimbunan daun di lingkungan sekolah, menimbulkan hawa sejuk sekaligus keteduhan hati. Nur Hadi masih membimbing anak kelas VI untuk menata kelas, karena senin lusa akan dilangsungkan ujian sekolah. Pandangan matanya kini terpusat pada halaman sekolah, kala seorang wanita tua berjalan mendekatinya dengan tergopoh-gopoh. Rupanya pagi ini giliran seorang penduduk desa yang berniat minta tolong kepada Pak Guru Nur Hadi.
“Oh rupanya engkau Bi, silakan duduk”
“Aku harus bagaimana?, aku harus berkata apa?”
“Sabarlah Bi, duduklah dengan tenang, katakana apa masalahnya, Jangan emosi dulu”
“Itu si Amran, yang sekarang tak mau sekolah lagi, sudah tiga malam ini dia baru pulang. Lagian pulang dalam keadaan mabuk. Bagaimana ini Pak Guru ?”.
“Ah anak muda sekarang memang seperti itu, Bi. Jangan Bibi banyak marah dengan anak sekeras itu. Turuti saja kemauannya dulu. Setelah dia agak lapang hatinya barulah Bibi nasehati dia”
“Tolonglah Pak Guru, sudah tidak kurang lagi aku ngomong sama dia. Rasanya sampai kaku lidahku”
“Ah Bibi ini ada ada saja. Kalau Bibi tidak mau kasih nasehat. Lantas siapa lagi?”
“Iulah masalahnya, Pak Guru !. Amran kan dulu sekolah sini. Dulu kan Pak Hadi yang paling dekat denganya. Maka tolonglah Bibi ini. Nasehati si Amran itu !”
“Baiklah kalau begitu, Bi !. Tunggulah beberapa hari. Nantikan dia ketemu aku di kegiatan karang taruna. Aku akan nasehati dia”
“Ah trimakasih sebelumya, siapa lagi kalau tidak sama kau Pag Guru, untung desa ini punya guru seperti kamu. Maka carilah gadis desa sini supaya kau betah tinggal di sini. Jadilah penduduk sini, kau akan merasa damai, Jangan cari gadis kota !. Mereka pintar dan cantik tapi suka berani sama suami”
“Ah Bibi ada ada saja. Trimakasih nasehatnya ya Bi”
“Aku pamit dulu, gampang lain waktu kita sambung lagi”

Nur Hadipun menjadi geli hatinya, tentang peran dia di tengah masyarakat desa ini yang masih lugu dan pasrah. Jauh berbeda dengan Jogja tempat kelahirnya, yang jauh di sebrang lauan dari tempat dia mengajar kini. Beruntung pula bagi Nur Hadi yang memiliki tabiat ramah, suka menolong dan supel bergaul. Maka meski kehadiran dia di Jambi belum beberapa lama, namun hamper semua warga di Kecamatan Hidup Baru Kota Jambi telah mengenalnya.

Matahari telah melewati sepenggalah langit, teriknya sudah mulai memenuhi semua halaman sekolah yang sederhana itu. Semua siswa kini berteriak kegirangan lantaran mereka hanya setengah hari bersekolah. Nur Hadipun segera menuju perjalan pulang melewati jalan yang terik dan berdebu. Gemerisik daun jagung di tiup angin padang terdengar sepanjang kanan kiri jalan desa. Senyum wanita desapun tak ketinggalan ikut mengantar sepanjang perjalanan guru muda terebut, Termasuk Restu Priastuti, putra Pak Priadi yang telah lama tinggal di pinggiran Kota Jambi. Pak Priadi sendiri befrasal dari Kab. Purbalingga Banyumas.

Untuk gadis Jambi yang satu ini memang Nur Hadi merasakan sesuatu yang lain. Selama dia menggapai masa depanya dengan menjelajah banyak tempat, belum pernah kata hatinya bergejolak seperti ini, dari mulai pandangan pertama saat mereka bertemu di pertandingan voley antar desa, mereka berdua sudah saling tertarik.
Nur Hadi segera menepikan motornya kala melihat Restu gadis pujaanya, sedang membantu ayahnya membersihkan lahan tanaman jagungnya dari rumput dan gulma lainnya. Mereka akhirnya sudah terlibat dalam canda ria saling melepas tawa, sambil sebentar sebentar berpadu pandang. Kala ini terjadi, merahlah pipi Restu namun tidak mengurangi keanggunan gadis desa ini. Nur Hadi segera saja melepas sepatunya dan ikut membantu tambatan hatinya dalam mengolah lahan jagung itu, meski seragam batik PGRI menjadi berlepotan tanah.
“Kok nggak sekalian pulang dulu Kak?”
“Di rumah juga mau ngapain cuma bengong. Mendingan melihat di sini, bisa melihat Nawang Wulan di sawah”
“Siapa itu Nawang Wulan, pacarmu dari Jawa ya Kak ?” . Nur Hadi tersenyum gelid an membuat Restu tambah penasaran
“Ayo dong Kak. Siapa Nawang Wulan. Kayaknya di desa ini nggak ada yang bernama Nawang Wualan”. Karena desakan yang terus menerus Nur Hadipun akhirnya bercerita tentang legenda Jawa tentang Joko Tarub dan Nawang Wulan. Restupun menjadi berbingar wajahnya dan memerah pipinya dan kini hanya tertunduk lesu setelah tahu maksud hati sang guru yang masih perjaka itu/
“Tapi aku bukan bidadari lho kak”
“Ah bagiku kamu adalah bidadariku” jawab Nur Hadi kala mereka telah berdua duduk di bawah rerimbunana tanaman jagung yang sudah agak tua.
“Kan masih banyak bidadari di Jawa kaka?”
“Aku sudah jadi PNS dan berniat tinggal di sini. Lagian di Jawa aku tidak punya siapa siapa hanya bapak dan ibu serta adiku. Untuk apa aku ke Jawa lagi”
“Tapi banyak guru negeri yang balik lagi ke Jawa, kamu apa nggak seperti mereka?”
“ Nggak Res, aku dah betah disini, kelak kalau kita bersama membentuk maghligai, akan aku pindahkan saja bapak ibuku ke sini. Orang sini baik baik semua sama aku Res ?”
“Gimana ya kaka, kebanyakan pria memang suka menebar janji, aku nggak tahu kak?”
“Aku seorang pendidik Res !. aku punya moral. Dan bagi seorang pendidik, yang telah bertekad menjadi pegawai negeri tentunya akan memiliki moralitas untuk membangun lingkunganya. Barangkali kita bsa pulang ke Jawa setelah aku pensiun. Dan untuk itu telah berulang aku sampaikan padamu untuk bersama menggapai kehidupan kita bersama”. Restu hanya menundukan wajahnya, sama sekali dia tidak mampu menjawab setuju. Maka kini Nur Hadi menjadi berbunga hatinya. Tembang merdu dalam hatinya terus saja ia dendangkan sepanjang perjalanan pulang mengantar Restu ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan semua warga desapun melempar senyum dan lambaian tangan. Seakan mereka telah menobatkan mereka berdua sebagai Abang dan Nona Desa Kembang Arum. Nur Hadi kinipun larut dalam belaian cinta bersama Restu pujaan hatinya.(PONDOK SASTRA HASTI SEMARANG)

Sebuah Senja Di Lahan Sawit

Barangkali saja manusia memang harus mengenal dirinya sendiri, semata untuk menghilangkan sifat ego yang biasa didera oleh insan di dunia ini. Lantaran ini pula Pak Guru Sofyan harus mengerti akan kesendiriannya, tanpa ada lagi Sugiarti yang dia tambatkan pada tepi hatinya, ketika mereka berdua menjadi guru SD Warga Baru di Bumi Transmigrasi Kalsel. Setelah lima tahun mereka menjadi anak bangsa yang merelakan hidupnya, demi untuk mencerdaskan anak anak petani sawit yang datang dari Jawa. Sesuai tekad mereka berdua ketika berniat mengukir makna pada sebuah kehidupan.

Sementara Sugiarti kini lebih memilih untuk menambatkan hatinya pada Dimas Hardiman yang sukses di areal transmigrasi, sebagai petani sawit. Keteguhan hatinya sebagai guru pejuang mampu Sugiarti hadapi, meski beribu duka lara telah mengakrabi hingga hampir separo hidupnya. Namun menambatkan cinta Sofyan yang senasib sebagai guru dari Jawa begitu rapuhnya. Mereka berdua pun telah cukup sudah menyematkan sebuah pengabdian yang besar kepada petani sawit dengan rela menjadi pendidik, tanpa memperdulikan makna hidup mereka sendiri. Namun apalah artinya mengukur kedalaman sebuah hati, ketika Sugiarti begitu saja memalingi Sofyan dan membuka kedua tanganya pada Dimas yang piawai menebar pesona.

“Itulah kenyataannya, Mas. Memang aku harus memikirkan biaya adiku yang masih ada di Jawa” tutur Sugiarti di awal senja ketika mereka berdua berada di ruang tamu rumah kos Sugiarti.
“Yah kalau memang itu maumu, kita berdua memang telah menjadi figur yang sarat dengan perjuangan semata-mata untuk lebih memaknai hidup ini, dan nyatanya kita berduapun berhasil. Meski harus hidup pas-pasan. Tapi ya itu memang hak kamu”.
“Aku harap engkau mengerti, Mas “
“Nggak jadi masalah, Toh aku sudah pernah katakan ketika kita berdua berangkat dari Jawa, dengan selembar SK penempatan dari pemerintah untuk mengabdi di bumi transmigrasi ini. Bahwa kita harus siap menerima tantangan apa saja”
“Tapi bagi kamu, Mas. Masalah ini kan lain. Aku merasa bersalah harus mengambil langkah ini. Namun aku juga kasihan dengan ortuku yang hanya semata menghidupi adik-adiku dari hasil panenan. Aku tak berdaya, Mas”
“Akupun mengerti, Giarti. Hanya aku berharap kamu harus berbahagia dengan Hardiman. Kamu jangan menyia-nyiakan separo umurmu hanya untuk masa depan anak anak didik kita. Kamu juga manusia yang berhak mendapatkan bahagia”
“Betul, Mas !, apa hanya di bibir saja ?”
“Pernahkah aku bohong padamu ?”
“Nggak, pernah Mas !”

Giarti tidak mampu lagi menjawab ucapan Sofyan yang tiga tahun lebih tua darinya. Dari sisi hatinya, diapun masih mengagumi kebesaran hati Sofyan yang entah hanya pandai menyimpan perasaan ataukah memang datang dari lubuk hatinya saat menerima kenyataan ini. Sugiartipun telah tahu bahwa tindakannya itu jelas melukai hati kekasihnya itu, yang sejak lima tahun yang lalu saling menambatkan janji untuk berbahagia di tengah kehidupan petani sawit.Bumi trabsmigrasi yang berhias temaram senja menjadi saksi perpisahan dua hati yang sama sama menyadari kata hati mereka masing-masing. Sebuah perpisahanpun Nampak indah bila insan yang saling melepas ikatan dan janji saling mengerti.

Memang merekapun masih berharap bahwa senja itu adalah bukan senja terakhir, namun pada kenyataannya senja itu memang banyak digayuti awan hitam, yang menyimpan badai dan mungkin petir yang ganas menerjang siapa saja yang berhadapan. Dari jauh kelihatan pada kaki langit ufuk barat semburat warna merahpun sudah mulai kelihatan, layaknya sebuah kanvas raksasa yang digunakan untuk mengukir keindahan alam.

Bagi Sofyan liku-liku hidup adalah ibarat bayangan tubuhnya yang selalu saja melekati erat tubuhnya yang terbawa hasrat hati, maka senja itupun ia biarkan berlalu begitu saja, meski dia juga manusia biasa yang terlanjur menorehkan harapan untuk menyandarkan sebelah hatinya pada Sugiarti. Betapa sesak dadanya bila mengingat senja itu. Namun diapun merasa bahwa dunia yang selebar genggamanya itupun harus dia tapaki dengan realita.

Sang waktu pula yang membawanya menukilkan hidup yang lebih realitas. Apalagi bagi dia yang sudah terlanjur hidup di pedalaman Kalimantan. Diapun dengan sigap membunuh bayangan Sugiarti yang terlanjur berkarat di hatinya. Yang jelas tantangna hidup ke depan jauh lebih menyita kehidupannya ketimbang memburu bayangan Sugiarti. Meski setiap datang senja diapun selalu teringat senja terakhir di tengah lahan sawit. Hingga pada suatu senja dia pun kembali teringat Sugiarti, meski saat itu usianya hampir mencapai 50 tahun, saat itu pula dia mendambakan untuk pulang ke Jawa bersama Herningsih, pendamping hidupnya yang menggantikan kehadiran Sugiarti untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama tiga putranya di Kec. Prembun Kab. Kebumen.
Herningsihpun dengan senyum tulus dan ceria menerima rencana suami tercintanya, lagian diapun mengharap anak-anaknya kuliah di Jawa yang lebih baik mutunya.

Akhirnya pada senja kali ini, kebahagiaan mereka berdua dan putra-putranya itu telah semakin merebak menyingkirkan kenangan bersama Sugiarti. Namun sejenak canda riang mereka terhenti, ketika mereka melihat kedatangan Hardiman, yang dari arah kejauhan berjalan menghampiri mereka.

“Silakan masuk Bang Hardiman, mari ! “. Hati Sofyan menjadi penasaran dan mencob menerka, pasti sesuatu terjadi antara Hardiman dan Sugiarti.
“Trimakasih, Bang Sofyan. Maaf manganggu acara kalian semua”
“Oh sama sekali tidak, kami hanya sedang ngobrol nggak karuan. Tumben Bang Hardiman datang kesini, sepertinya ada perlu penting, ya Bang ?”
“Betul Bang, ini semua tentang adikmu Sugiarti”. Mendengar nama itu disebut berdesir hati Sofyan. Herningsihpun menjadi tambah penasaran tentang apa yang terjadi dengan Sugiarti.
“Kenapa dengan Kak Sugiarti, Bang” Tanya Herningsih, lantaran dia sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar sebenarnya tentang mantan kekasih suaminya itu.
“Ah aku sudah tidak mampu berbuat apa Bang. Semua harta miliku telah aku jual, demi kesembuhan Sugiarti”
“Sugiarti, sakit apa, Bang ?”
“Dokter menemukan adanya kanker pada kedua ginjalnya, Bang “
“Lantas, menurut dokter bagaimana cara penyembuahanya ?”
“Itulah, Bang yang membuat saya menjadi setengah gila. Hidup Sugiarti tidak mungkin mampu ditolong lagi, kecuali ada ada donator ginjal yang bersedia diambil sebelah. Hingga saat ini aku dan dokternya Sugiarti belum mampu menemukan, kalau toh aku berhasil menemukan belum tentu organ ginjalnya mampu diterima tubuhnya Giarti”
Terlihat menegang wajah Sofyan mendengar berita tentang Sugiarti, meski Sugiarti pernah menyayat hatinya, namun bagaimanapun juga dia adalah teman lama seperjuangan kala mereka berdua mulai meninggalkan Jawa. Sementara Herningsih tidak henti-hentinya mengamati ulah suaminya, lantaran dalam hatinya telah bersemayam perasaan cemburu.
“Mam, gimana bila Bapak mencoba untuk menjadi donator organ untuk adikmu ?”
“Silakan saja Papi, tapi apa kesehatan papi mendukung ?. Ingat papi, akhir akhir ini sering masuk angin”
“Gimana Bang, aku sebenarnya pengin menyumbang ginjalku sebelah, tapi umur dan kesehatanku kayanya sudah tidak memungkinkan”
“Ah saya sendiri tidak tahu, Bang Sofyan ?. Tapi sebaiknya Abang ikut aku ke rumah sakit, siapa tahu dokter mengijinkan”

Herningsih tertunduk lesu, dalam hatinya berkecamuk berbagai perasaan tak menentu. Di salah satu sisi hatinya dia menahan rasa cemburu, sisi lainnya dia juga mengkhatirkan kesehatan suaminya yang sudah mulai sakit=sakitan. Namun di belahan hati lainyapun dia merasakan iba terhadap nasib Sugiarti, yang berprofesi guru SD seperti suaminya itu.

Namun apapun alasanya , Herningsih hanya menilai dari sorot mata suaminya yang terus memandanginya dan menyiratkan kemauan yang hanya semata-mata menolong nasib temanya dan juga menyisakan sorot mata yang meminta ijin darinya. Maka Herningsihpun hanya bisa menganggukan kepala pertanda dia menyutujui niatan mulia dari suaminya.
Di kamar ICU itu Sugiarti masih terbujur kaku dan seluruh tubuhnya mulai mendingin, akibat racun racun dari seluruh tubuhnya mencemari darahnya. Tanpa seberkas senyumpun Sofyan dan Herningsih berdiri di sisi pembaringan Sugiarti, yang sudah seperti mayat. Dokter Burhan yang mengawasi intensif kesehatan Sugiarti kini menggelengkan kepalanya dan menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Dimas Hardiman lantaran tidak mampu berbuat banyak.
Hardiman kini hanya mampu meneteskan airmata kesedihan, sedangkan bagi Sofyan kali ini dia merasakan hadirnya senja yang kedua di Bumi Transmigrasi lahan sawit. Dia segera merapatkan badanya kea rah Herningsih, sembari memegang kuat tangan istrinya, pertanda dia tidak mau ada perpisahan diantara mereka, kecuali bila Tuhan Yang Kuasa menghendaki. ***
———————

SAJAK HARI DAN ANGIN

Hanya Tengadah

Melihat angin yang merajut hari
dalam fajar hingga menyongsong senja
aku terus terkapar
deru dan debu terus saja mengasapi jalan
tak mengapa arah menjadi mataku
aku sempat menggelepar untuk bergayut pada awan

Angin terus merajut hari
aku ini apa hanya tangan tengadah
tiada mampu lagi menelikung…..
meski hanya seutas angin
Semarang, awal September 2010

Dalam Dua

Cermin dariku sendiri
telah kuletakan dalam debu tiada berona
lantas aku…terlena dalam sajak diriku sendiri
aku menerbangkan jauh ke tepi cakrawala
sudahkah aku mampu bergelut
dengan awan jingga
yang di tengahnya tergambar dirimu

Akupun lari sekuat aku yang liar
tanpa mampu memungut apa yang kamu torehkan
sudah tiada berkas kuning mentari
yang menjadi kawanku
harusklah aku membawa tanahku sendiri
biar aku telan “hari penuh angin”
tiada usai
Semarang,awal September 2010

Terselip di Hati
Pagipun tiada pernah……
seperti pagi ini
aku ukirkan pada batas pandang
tiada henti

Dalam dua mata cinta terselip
dalam dua hati saling mencari kaki langit
akupun malam pekat
tiada lagi berenda pagi

Sedangkan engkau angsa bersayap
meninggalkan ….batu dingin
jangan kamu patahkan lagi
batas pandang yang sempat melemparkanku
ke tengah taman bunga
Semarang, awal September 2010

Menjadi Liar
Aku terpelanting dari angin
yang memagutkan tiap harap
akupun menuju tengah langit
bermahkota merah jambon…..

sementara pasat hanya mengintip
dari balik awan hitam
aku sertai tawa yang menggetarkan
ombak di Parang Tritis
lantaran berpadunya kata hati alam
aku jadi tengadah …….
mengharap angina menggulung
masa laluku
Semarang, Awal September 2010

Bersembunyi di Balik Diriku
Lantas bagaimana aku lagi,
bila bersamanya kujinjing menjadi angin malam, menyertanya
haripun aku jinjing dalam sebuah kancah
aku menjadi hilang….berteman sajak

engkaupun selalu hidup di ujung malam
ketika angin yang yang kutundukan
kusodorkan…..
menjadi indah dan menjelma dirimu
hingga akhir

Semarang, Awal September 2010

Aku Ingin Pulang

Terasa rindu memenuhi remang semua yang kupunya…
Di atap rumah berhias kanvas prosa
Telah ada bunga bakung yang menawarkan “tawar air dingin”
Aku ingin pulang…
Biar tiada lagi kota yang menepis’’’
Di atas vas hati, biar aku merasa tegar

Aku ingin pulang
Aku hanya sebersit buih tipis
Menghambur
Kala pelangi mencelup di bunga senja
Biarlah semua menantiku…

Semarang, 2 September 2010

Metamorfosis Hati Dalam UNTAIAN SAJAK

Menggambar Angin Di Langit KOTA TEGAL
(Ketika aku lahir)

Sesekali langit…..
Mendekatkan wajahnya hingga terlihat
taburan tinta..yang mengemas sebuah sejarah
Akupun berkelana di tengah angin kembara..
sayup di sudut langit itu…. sebuah goresan KodratNYA
akupun terkapar tiada daya
dalam peluk cium suatu kehidupan
Semarang, Agustus 2010


Padang Luas beratap Bulan Purnama
(Menjadi anak desa)

Kala atap langit,,penuh bersendau-gurau sinar bulan
nyanyian anak desa menggema dalam duduk yang melingkar
berebut bayang sendiri, yang menerkam suasana
manja, ceria dan berdanadan angin pantai

Aku tersihir menjadi hati yang berkeping
Kala malam bersolek syair:
“yo..pro konco dolanan ing njobo
Padang wuln, wulane koyo rino……”

Bilakah ikatan dan buluh rindu ini
Kembali memperdayaku hingga aku tercampak
dalam bulan purnama di padang desa
Semarang ,Agustus 2010


Di Tengah Bunga Warna Warni
(Menjadi pelajar SMA N 2, Tegal)

Ketika di depanku menghampar kebun bunga
Ranum Dahlia, Anyelir,Mawar hingga Kembang Sepatu
Masing menyodorkan sekeranjang kelopaknya
Yang terjulur dengan ornament hasrat
Lantas kutepiskan tembang pilu

Agar mampu menghirup, wangi kembang itu
Kini tergolek dalam hujaman angin jaman
Entah kemana……..senyap
Semarang, Agustus 2010


Senyap Dalam Sudut Hati
(Di Kampus Univesitas Jenderal Soedirman, Th 1981 – 1986 )

Kala menghimpit peraduan di tengah malam
Secuil bayang datang dan berseloroh……
Inikah dirimu…dalam kertas kumal

hingga aku terjaga……..
hingga kuusap bayang itu
hingga menundukan wajah dan
luruh bersama dingin angina malam
Purwokerto, 1982



Aku Terbuang
(Di Bungalow Baturaden)

Di halaman bungalowmu
Aku coba menebar benih
Tentang semai dedaunan hijau
Hingga kita mampu bersemayam
Dalam teduhnya

Namun kembali hati ini meradang
Merajut kain sutra tanpa hiasan
Sedang aku sendiri layaknya sebuah kumbang
Menembus pekat malam
Ketika tersingkap sebuah bungalow
Yang kau tanami harap

Bungalow itupun kembali gelap…….
Purwokerto 1985

Hanya Waktu yang Melintas
(Selamat Tinggal Purwokerto)

Mengapa harus kau jinjing sebuah angin dingin
Bila hanya bertaut dengan puncak Slamet
Mengapa pula tiada relung untuk menyegarkan aku lagi
Tatkala sebuah keheningan harus melumatku
Sehingga terasa jauh tulang dengan dagingku

Ketika kupetik jendela langit
Agar merah lembayung menghuni kita
Tatkala pula bayang hitam “dengan wajah beringas”
Harus mengeringkan aku di tengah kerinduan

Atau telah pupus sudah
“Asmarandhana” dan warna warni halaman hati….
Yang selama ini memberimu dandanan dalam dendang riang
Maka aku kembangkan layar biduk
Tapi entah hanya tergambar di wajah rembulan

Aku sudah tidak mampu lagi ..berteriak nyaring di kota ini…sepi.

Purwokerto, Medio Juli 1986

Aku kuliti diriki sendiri
(Jakarta, aku menghilang dalam bayangku sendiri)

Memburu angin pagi. Bercampur debu
Jalanan meradang…..
Sorot mata garang…….
Terkelupas kulitku dalam bis kota
Yang memecah deru dan debu

Aku lunglai……….
Lantaran berjuta lengan legam dan kokoh
Mencekik leherku…

Aku terbang……
Terhempas angin busuk
Yang hanya menyisakan separo nafasku

Jakarta 1990

Aku berdiri di Tengah Telaga Warna
(Mengais kehidupan di Kotaku Semarang)

Telagaku….
Bila kau katakana telah lusuh tubuhku…itu benar
Bila telah penat semua sendiku
Padahal harus aku jinjing secawan air telaga
Untuk menghapus dahaga di tepi senja

Maka aku kini berdiri di tengahnya
Yang bertepi rasa rindu dan dongengan satria
dalam lakon wayang yang “sacral”
Akan aku dapatkan pohon palam berjejer rapi di
tiap pagi….nyanyi burung kenari
sekarang telah menjadi miliku
aku dan mata hati ini adalah dua sosok yang kembar
Semarang , Pebruari 1991

Di Bilik Ini Aku Merindakanmu

Sajadah yang aku hamparkan ikut serta dalam pergulatan yang ada di dalam lazuardi batinku, dan terus saja menepiskan sekumpulan “halus sutra” yang sekarang hinggap di tengah hati. Padahal tangan ini sudah sekuat daya upayaku untuk menggapai angin malam,yang akan kuuntai di dada ini, agar mampu menerbangkan aku di balik keremangan Bulan Suci Romadhon Apakah sajadah yang ada di depanku ini terus saja akan melipat tempat sujudku.

Entah roda jaman apa yang menggilasku, sementara “seteguk demi seteguk” kegilaan telah aku selipkan pada semua yang aku punya. Hingga menusuk pembuluh darahku dalam otak yang tidak seberapa kokohnya. Hingga lunglai tulang ini, nanar pandang mataku meski seluruh otot bahu telah mengencang dan melegam, keangkuhanpun sempat menyelinap masuk dalam batin,hingga mampu membuat sejuta malaikat terpelanting kembali ke langit di tengah rengkuhan “Tangan Tuhan”.

Dan sekarang, sebuah gambaran abstrak yang menggigil lantaran amarahnya yang ememuncak telah menghadangku, di tengah pintu yang akan kuliwati untuk menyongsong Adzan dif ajar Bulan Romadhon.
“Apakah engkau sudah mampu berkemas guna menempuh perjalananmu, hai manusia lancang” jawab suara itu di balik pintu.
“Aku enggan menjawabmu, lantaran warna biru hanya akan aku hiaskan pada langit ketika tiada lagi badai yang memusariku”

“Ha..ha..ha,bukankah badai pernah kau curi dan dipasangkan di tengah mahkotamu, sehingga engkaupun tak mampu menoleh lagi. Sudahkah puas engkau mainkan sandiwara warna-warni di lazuardimu.Bukankah sajadah itu telah melipatkan dan hendak menukik dan mengganjal hatimu”

“Akupun belum sepenuhnya bermandikan air suci, agar sajadah ini menjadi diriku sendiri dan menjadi teman di tengah malam kala aku dipagut suatu kesunyian”.
Suara itupun telah lenyap. Karena kehalusan sutra di hatiku telah melilit lehernya. Tubuhnya kini menggigil dalam keputusasaan. Seribu sayap malaikatpun mampu menghalangi pandangan mataku, agar tidak lagi diculik oleh suara-suara sepanjang malam. Bumipun kini telah menelanya dan terus membenamkan menuju perutnya
Malam bertambah pekat, namun kegelapanya menjadi semakin memudar, kala dia menyiapkan diri menerima “malam seribu bulan”. Apalagi kesyahduan di sepertiga malam kini dirasakan oleh semua daun hijau yang tadi sempat menolak berceria di sentuh angin kembara. Biarlah malam ini menjadi miliku, agar leher ini tidak lagi menolehkan leherku pada masa silam.

Maka ketika bumi kuharapkan agar berputar berlawanan arah. Matahari kujadikan pertanda kala aku harus meradang dan menerjang debu jalan hingga berterbangan karena takut dengan kehadiranku. Segelas “khamer kehidupan” telah membutakan aku dalam arah mata angin yang tak pernah pasti. Maka kehidupan yang lancang terus saja menutupi”bait-bait suci” yang seharusnya menghiasi mahkota hidup.

“Hai,,jalan menuju keagungan, dimanakah aku akan temukan engkau, bila dengus nafasku sudah tidak mampu lagi mengenalku. Bila apa yang diperintahkan di Atas sana juga belum smpat aku benahi, aku cuci, aku seterika hingga pantas kala aku kenakan pada senja berhias pelabgi warna-warni”

“Berteriaklah engkau sekuat hati hai manusia, lantaran setiap debu yang ada di jalan ini adalah Tunduk dan Tawadhu kepada Sang Pencipta” Seru sebuah ujung jalan yang berliku dan membuat hati ini penasaran untuk men
“Lantas di mana akan aku temukan itu”

“Peganglah urat nadimu dan tundukanlah anganmu yang liar, yang biasa kau kenakan kala kau menggapai nafas, sehingga kaupun akan mendapatkan seteguk air tawar agar lebih mengerti lagi makna setiap makna di tengah sejuta makna “di tengah belantara ketidaktahuan”, kalau kau gelisah DIA yang akan membasahimu, kala kau terpanggang di tengah padang hidup yang gersang, DIA akan memberimu secawan obat mujarab hingga engkau tenang, bila enghkau tak tahu arah DIA pun akan menuntunmu dengan penuh ramah, bila engkau gundah, DIA pun akan memberikan apa saja lantaran DIA Maha Pemurah”

“Namun kedua kakiku ini sudah terlanjur terjerambab dalam kubangan “fatamorgana hidup di jaman ini”, rengkuhanya begitu kuatnya. Hingga dada ini terasa panas, tiada satupun air yang mampu membasuhnya, Tiada satu gunungpun yang mampu mengalirkan mata air pembnasuh itu”

“Engkau memang keras kepala hai manusia, dan tuli telingamu, mata hanya untuk memandang gebyar lampu taman warna-warni, ketahuilah hai “pembawa bencana”, semua yang menghalangimu mampu kau tundukan, bila suara degup jantungmu sendiri telah mampu kau dengarkan, bila darah yang mengalir di setiap nadimu telah kau jaga. Maka pergilah kamu jauh-jauh, tundukan “belantara ketidaktahuan” dengan bilah sutra yang kini ada di sudut hatimu. Niscaya malamupun menjadi milik seribu bulan”.
Kali ini biar aku pegang sisi yang paling tajam dari pedang waktu, agar tidak menebasku dan memisahkan diriku dengan ujung jalan yang tak berdebu itu. Biarlah aku jaga pedang itu hingga suara Adzan di fajar Bulan Romadhon mampu aku dengarkan dengan jernih.

Menjaring Lazuardi ASMAMU

Langit telah membuka jendelanya, sehingga turunlah beribu berkas sinar kesyahduan diantara yang terindah selama 30 hari. Tanpa ada keraguan lagi, sinar-sinar itupun meliuk bagai kepala naga yang hendak mencari mangsanya. Walau mereka hanya berniat membawa sekeping berita kemenangan untuk diberikan kepada manusia yang berjejer dan berhias dengan kesungguhan, di balik Mahameru dengan menggambar warna langit yang biru-terharu.

Diantara gerimis wewangian bunga itu, sebentar-sebentar terdengarlah, lengkingan sejuta jubah hitam yang membelit bahu manusia, untuk meradang membiramakan nada-nada yang telah disunting dari balik kaki langit

“Akulah sinar putih dari beranda langit”

“Enyahlah,engkau sinar-penjaja ketidak- tahuan. Biarkan malam ini aku sepelaminan dengan manusia untuk mencicipi manisnya madu. Lantaran banyak manusia yang dahaga”. .Protes durjana bermuka hitam kelam. Nampak dari kedua matanya, tersorot bola api, yang mampu menembus kedalaman sebuah samudra.

“Biarlah sesukamu engkau membentang sayap, biarlah sesukamu menebar angin kembara. Sehingga mampu meniupkan manusia dalam penjelajahan tiada akhir. Aku tak berminat sedikitpun berseloroh denganmu ”

“Lantas mampukah engkau menerbangkan manusia dengan sejuta sayapmu, menuju pelabuhan yang berhias kenikmatan dan kesyahduan.dimana manusia mampu menyandarkan angan, merebahkan badanya sambil menikmati tembang Asmarandhana, layaknya mempelai menikmati malam pertama penuh sendau-gurau”

“Enyahlah kau dari dekatku, kembalilah ke asalmu bersama bangunan istanamu, yang lama kau tinggalkan. Tiada sedikitpun kau punya hak untuk melarangku. Aku hanya mau menyunting kekasihku yang bersemayam di tiap akhir malam untuk membasahi lidahnya, mereka yang dari kedua tanganya mampu memancarkan air gunung, mereka yang setiap malam menggambarkan kanvas dengan garis penuh warna, enyahlah kau jauh-jauh !!!”...

Berdesirlah angin malam yang kuat saat itu, angin yang mengikat takbir, tahlil dan takhmid dalam satu ikatan. Lantas ujung-ujung ikatan segera saja memelantingkan “dahaga di ujung jiwa”, bagi tiap manusia yang tiada pernah lagi hirau akan episode ego,maka biar saja baju-baju mereka berenda sulaman dengan benag surga.

Sesampainya mereka di hadapan wajah wajah yang tunduk di tengah gema takbir, sinar sinar putih itupun merebahkan diri di lantai bumi.Seketika itu bumipun bergetar, dan segera bumipun dengan dandanan yang telah pongah egera mengikuti sinar putih tersebut dalam mendekam makna.
2
“Hai bumi mengapa engkau kini berdandam penuh kepongaha, warna bajumu telah luntur, sementara wajahmu kini di berhias belatung belatung kebusukan yang menjijikan. Tiada kau lupa bahwa engka dikandung alam semesta selama enam peraduan, dan engkau tempat manusia bergelantung menghirup segar nafasmu. Dari tubuhmu itulah manusia menggenapkan manka hidup, maka janganlah kamu lupakan malam ini. Malam yang berisi kesegaran untuki jiwamu yang renta”

“Benar sekali apa yang kau katakan, maka biarkan saja aku melengking menerbangkan syahwat durjanaku agar manusia terpelanting dari tepiku, dan berkelana entah ke mana. Akupun muak dengan tabiatnya yang angkuh”.

“Sejak kapan kamu bisa bersikap keblinger seperti itu. Engkau adalah biduk nabi Nuh, ketika biduknya yang dulu kandas di puncak Himalaya. Memang engkau telah membawa beban muatan yang terpilih, dan lagi mereka memiliki raut wajah yang beraneka-ragam. Hingga nanti saat kabut batas tersingkap, engkaupun akan melihat mereka dalam lakon hidupnya masing-masing”.

Sejenak keduanya terpagut dalam kesyahduan malam takbir penuh kunang-kunang, malam itu bertepi setiap kalbu yang telanjang dengan hanya hiasan Tawadhu, malam yang menderangi jalan temaram karena RidhoNYA.
bambang sukmadji

Sesekali terdapat juga manusia yang berkulit muka tebal, dengan pandangan mata lurus ke depan dan terkadang tengadah untuk menepis pasrah dan menyelipkan angkuh, wajah yang selalu menjinjing senyum kedurjanaan. Mereka menyimpan nafsu keduniawian dalam perutnya yang membusung, dada mereka kinipun disodorkan pada roda jaman gengan membusung, tanpa mengindahkan kehalusan untuk orang lain.

“Hai..manusia mengapa engkau demikian”, Tanya sebiuah wujud dari sudut hati mereka, saat mereka melepas lelah dari letih yang mencekam.

“Lantas aku harus berbuat apa lagi..?”

“Apa kamu tidak pernah menggunakan hatimu untuk menggambarkan akan semua yang melingkungimu dan ada apa di balik itu ?”

“Perjalanan ini sungguh meletihkan.Mana sempat aku berikan sebagian dari tubuhku, untuk mengintip sesuatu dari balik ini semua. Bukankah aku sudah memiliki jalanku sendiri untuk mencapai tujuan. Tujuanku tiada lain hanya mengakhiri keletihan ini”

“Justru saat itulah yang menjadi bagian yang sangat essensi tentang keletihanmu itu”.
“Aku mau diberi apa lagi ?”
“Nanti kamu bisa mendapatkan seteguk air penghaopus dahaga”
“Dari mana asalnya air itu ?”
“Dari yang Mencipta”
“Mengapa tidak selarang saja diberikan”
3
‘Karena tenggorokanmu masih menolak mendapatkan air itu !”
“Ah..biarkan..aku hanya memejamkan mata hanya sejenak..saat aku terbangun, tentunya akan menjadi bagian dari perjalananku sendiri.Biar saja aku berselimut apa yang aku sukai.Biar saja lampu-lampu taman tempatku berjalan berhias guratan penuh maghfiroh..biarkan saja “

“Tetapi bukan dengan cara memalingkan wajahmu”
“Wajahku biar saja miliku”
“Namun nanti akan menghadap sisi paling cerah, saat kamu mengakhiri babak sandiwaramu”
“Akupun sudah tahu sisi yang paling cerah itu, tidak usah kau banyak celoteh. Ikuti saja perjalanan ini”

Tiada pernah sepi kanvas wajah samudra yang membujur dari ujung satu sama lainya, dari rona manusia seperti itu. Hingga tiada beda warna malam beruntai asmaNYA dengan malam lainnya.Mereka telah membuat sinar putih menjadi meradang dan meregang karena dada mereka yang membusung, mereka telah pula menjadi kekasih hati dengan lantunan cinta jubah-jubah hitam pekat yang bergelantungan di bibir neraka.

Namun apa arti mereka semua, lebih baik manusia yang sedang menunggu panggilan untuk ,menjenguk wajah kelanggengan, untuk tetap membasahi lidah dengan Takbir, Tahlil dan Tahmid,untuk menuju gerbang fitri yang sudah berdandan ayu. Bumipun masih setia memutarkan Kodrat dan IradatNYA, tiada pernah terpaku sejengkalpun pada perjalanan mengantarkan Sunatullah.

Biarkanlah manusia manusia itu terperangkap dalam angin segar beraroma kefitrian. Merekapun kini berhias dengan pintu sorga bergurat kayu cendana bertulisan pintu untuk ahli puasa. Semoga aku salah satu manusia yang terjebak dalam Lazuardi AsmaMU.

ISTANA DI BALIK CAKRAWALA

Di balik cakrawala langitpun kini berwarna jingga, setelah sekian lama “menikam senyumnya” hingga berwarna merah merona. Di balik cakrawala itu pula, terdapat membisu puncak yang lebih kokoh dari Puncak Sagarmatha namun tetap saja cakrawala itu saat ini berkulum senyum, menyimpan gambaran penuh kasih.Didalamnya bersemayam Istana tempat manusia melepas lilitan tali bersimpul gerigi, yang tiada mau lepas dari kulit yang telah terkoyak. Sesekali angin dingin cakrawala itu, berteriak menyampaikan protes, mengapa kecantikan Mauna Loa dan Chimborazo tidak pernah terlintas lagi, mengambil syahwat-syahwat yang akan menggoda manusia, yang menjinjingnya menuju cakrawaka itu.

Namun rupanya kesyahduan manusia dalam merajut angin penuh wangi bunga dalam ikatan kembang setaman di cakrawala itu, telah melupakan nafsu syahwat itu, Lagian di tengah cakrawala itu, ketika terdengar takbir, tahlil dan takmid , manusia kembali tersungkur menata nafasnya kembali, ketika tersengal di adonan duniawi yang telah berbau busuk. Bukankah di Palung Mariana, tempat yang eksotis berisi telaga Kautsar yang akan membumikan segala nafsu.

Bukalah ikatan Batari Durga di pelabuhan Gondo Mayit,lalu campakan hingga engkau manusia mampu mengepalkan tanganmu dan tak akan lagi mempan terhadap rayuan Batari Dorga ketika kau masih berada di bawah cakrawala, ketika lembayung senja memerahkan rona kalbumu, ketika sekuntum bunga mawar sudah tidak membawa kesegaran lagi, Ketika langit tersungkur mendengar suara Adzan, engkaupun malah menanarkan matamu,melilitkan deru dan debu di bilik jantungmu.Apakah sudah gelap matamu,padahal ruhmu yang tidak seberapa kokoh telah berada di genggamNYA. Inilah cakrawala nun jauh disana yang berisi sebuah istana untuk kau semayami.

Semilir angin Sagarmantha telah menukik tajam namun tetap sepoi membangkitkan kerinduan manusia untuk memetiknya dan menyimpan dalam dadanya masing-masing, bagi yang telah gerah jiwanya. Bila angin ini berhasil dililitkan dalam kehidupan yang penuh bara, hasud, iri dan dengki. Maka tiada mungkin lagi manusia menengadahkan wajah untuk meminta hujan esok pagi.yang memberi kesejukan hidup, bukankah dada ini sekarang telah berisi kuntum senyum keteduhan yang ada di Cakrawala.

Bukankah pula telah satu bulan penuh manusia “tawadhu berpasrah”, telah menerpa dirinya sendiri agar kokoh menghadapi tajamnya badai. Akupun masih limbung terbenam dalah tajamnya badai itu. Aku telah menyingsingkan lengan baju, menyingsingkan cita dan hasrat dan menajamkan tatapan mata selama satu bulan menguntai dahaga, lapar, dan mendidihnya ubun ubun kepala dalam menerima sodoran hidup. Lantas biar saja aku lewati satu bulan untuk mereguk Al Kautsar di

Dengan tergopoph-gopoh, lantaran tinggal setapak langkah kaki menuju Istana di balik Cakrawala, aku menggapai dengan genggaman tangan yang selalu bergetar selama 10 malam terakhir. Aku reguk setetes demi setetes air Telaga Kautsar,. aku turuti sungai-sungai Gletser dari Puncak Chomolangma, . yang bertepikan tumpukan salju yang mampu memantulkan sinar sang mentari, hingga berwarna putih tanpa

2
sedikitpun kekusaman. .Lantas dahaga ini mulai menyurut, ditengarai langkah semakin menyerupai “sapu angin”.

Selamat Datang pada wujudku semula, yang tidak lagi renta seperti Janggan Semarasanta atau bahkan seperti Pandita Sokalima, atau bahkan muda belia seperti Wisanggeni, yang ada adalah aku bersama bayang berbaju putih dengan mengenakan sayap putih hendak terbang meniti ke empat arah kebenaran. “0h,,inikah arah itu, aku hanya mengerti lewat nyanyi burung,namun ke empat arah itu kini sudah di dekatku”, bisik kalbuku, yang telah lama merindu kebenaran.

Akupun tidak mengira sebelumnya, bila sebilah episode pernah aku torehkan, kini menjelma menjadi wujud yang ada dihadapanku. .Sambil berteriak dan menggertak, yang suaranya memenuhi empat arah langit, dan dari tangan kirinya menjinjing “kantong hitam”, untuk tubuhku yang tertebas pedangnya yang tajam dan terhunus di tangan kanannya.

“Aku adalah bayangan semu dan hitam, tempat kau pernah menorehkan sesuatu yang spectakuler. Tetapi engkau sama sekali tiada menyadari”

“Perjalanan yang aku kayuh dengan biduk tiada pernah membentur karang yang tegar, ombak ganas dan badai yang menelan biduku”

“Itulah maka kau disebut manusia, ketika senja jatuh di pelataran Pantai Parangtritis, ketika kau bagalkan Romie dan Juli, ketika Julimu tersenyum ceria dan kaupun sempat mereguk “anggur merah” bercawan emas.dan kau melihat langit runtuh. Teteapi kau hanya diam terpaku. Kini dimana cawan emas itu ?”

“Aku buang jauh-jauh, dalam samudra hitam pekat. .Akupun tiada pernah berhasrat mencarinya, karena samudra itu sangatlah dalam.Aku bukan Werkudoro ketika mendapatkan Sang Dewa Ruci. Aku tidak tahu, harus bicara apa lagi

“Kamu memang manusia yang hanya bernafas, tiada pernah menelisik kata hati, bertulang kecil dan berdada rapuh, serta berdandan angin -badai di alam fana ini, tetap dadamu kau busungkan setinggi gunung anakan. Maka jangan lari, akan aku pagut dengan pedang ini tepat di atas ubun-ubun kepalamu”

“Ampun wajah seribu langit, berilah aku sekali lagi agar mampu menapaki lantai Istana Di Balik Cakrawala itu, anginya sudah aku rasakan dari sini. Pintu-pintunya sudah melambaikan tangan-tangannya lantaran rindu bertemuku. Aku tidak mencari apa-apa lagi, di saat hari telah senja, di saat sinar telah temaram, di saat baju yang basah tiada mengering lagi. Pasti aku akan menemukan cawan emas itu. Akan aku
simpan baik-baik, aku cuci pagi dan sore, serta akan aku peluk dalam setiap tidurku, Agar aku pula dapat memasuki Istana itu”

“Sebenarnya hanya dirimu sendiri yang dapat menentukan dirimu sendiri untuk mengembara dalam tiap sudut istana itu. Maka pulanglah engkau, senja terakhir di bilangan 30 hari telah cukup, lantas kau dapat tebari lagi hari hari esokmu dengan mutiara kemuliaanmu, agar engkau bisa bersemayam pada “tempat yang jauh lagi dari istana itu”
3
“Dimana lagi akan aku temukan tempat itu”

“Saat sebuah Catatan Harian dari langit mengirim kamu seprang utusan dan membawamu, berkeliling taman penuh warna bunga menembus angkasa dan melaju terus di tiap penjuru langit. Angin berdesir kuat diikuti butir pasair yuang menghalangi batas pandangku, langit kembali berwarna biru. Basah wajahku bersatu dengan “ornament-ornamen tentang hidup”. Gema Takbir, Tahlil dan Takbir memenuhi tiap kamar dan relung istana itu.

Akuipun menjadi terperangah, lantas aku sunting angin kembara untuk mengantarkan aku pada cawan emas tempat”anggur merah” yang telah disediakan untukku, kini cawan itu tergolek lemas, tiada lagi kekuatan untuk menegakan tulang belulangnya. Lantas aku sodorkan bunga mawar merah membara, agar dia mampu untuk menatap hari esoknya lagi.

“Trimalah ini, meski aku terlambat” seruku sambil tatapan mataku tak pernah aku lepaskan.

“Engkaulah durjana itu, .manusia yang tiada punya halaman hati untuk sekedar bertanam kebun buah. Untuk memandangi hijauan daun, untuk menitipkan sebilah kesejukan..?”

“Maka aku berikun seikat mawar merag ini”

“Untuk apa ?”

“Untuk aku terbangkan tubuhmu yang tergolek, agar bersemi lagi.agar semaumu bersemayam di kamar-kamar di Istana itu, lantas aku berikan bantal bersusun tujuh, dengan kebun bunga berada di sisi kanan kiri halaman istana itu”. Kini semua menjadi lengang setelah ornament diding itu dosemaraki dengan “anggur mera” yang berkubang di cawan emas.Bersama dengan Gema Takbir yang lebih nyaring lagi.